112 Kuburan Kuno Tiongkok Digali, Arkeolog Temukan Makan Berusia 4.900 Tahun

Terlihat kakinya tertekuk, sementara yang lainnya tergeletak di sisi satunya dengan kaki yang juga tertekuk.

112 Kuburan Kuno Tiongkok Digali, Arkeolog Temukan Makan Berusia 4.900 Tahun
Xinhua
Salah satu makam tertua di Tiongkok terkubur suami istri yang diperkirakan berasal dari Era Perunggu, lebih dari 4.900 lalu. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Arkeolog di Tiongkok menggali 112 kuburan massal di Xinjian Uygur, yang tiga di antaranya diyakini merupakan pemakaman tertua di wilayah itu.

Makan tersebut ditemukan oleh pekerja bangunan ketika membangun jalan raya di Nilka, Xinjiang, pada Mei lalu.

Dilansir dari Xinhua, Kamis (23/11/2017), satu makam tertua itu terkubur suami istri yang diperkirakan berasal dari Era Perunggu, lebih dari 4.900 lalu.

Arkeolog dari Institut Arkeologi Xinjiang, Ruan Qiurong mengatakan, makam lainnya diyakini berasal dari Periode Musim Semi dan Musim Gugur sekitar 770-476 SM hingga Dinasti Han pada 220 SM-220 Masehi.

"Penemuan ini bisa memperlihatkan budaya asli Era Perunggu di lembah Sungai Ili di Xinjiang," katanya.

(Baca: Innalillahi, Bayi Penderita Trisomy 13 yang Viral di Instagram Meninggal Dengan Tersenyum )

Ruan menuturkan, makam tersebut telah dijarah oleh perampok, tak menyisakan benda berharga apapun yang biasanya dikuburkan bersama pemiliknya.

Arkeolog hanya menemukan 96 peninggalan budaya, termasuk barang-barang perunggu, barang besi, benda-benda dari tulang, dan tembikar, setelah penggalian selama dua bulan.

Posisi tengkorak manusia yang terkubur di makam itu menarik perhatian arkeolog.

(Baca: Sudah 3 Tahun Tak Tinggal Serumah dengan Sunu, Seperti Inilah Kehidupan Suci Bersama 3 Anaknya )

Terlihat kakinya tertekuk, sementara yang lainnya tergeletak di sisi satunya dengan kaki yang juga tertekuk.

Menurutnya, postur seperti merupakan budaya pemakaman pada masa itu.

Selanjutnya, arkeolog akan membandingkan penemuan baru dengan makam serupa yang ditemukan di sepanjang hilir Sungai Ili di Kazakhastan, untuk mempelajari pertukaran budaya antara Tiongkok dan Barat pada periode awal.

Editor: Marlen Sitinjak
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help