Pemugaran Kampung Beting dan Masjid Jami Harus Berdampak ke Warga Setempat

Dengan adanya pemugaran Kampung Beting dan Masjid Jami berharap adanya penanganan yang terintegrasi.

Pemugaran Kampung Beting dan Masjid Jami Harus Berdampak ke Warga Setempat
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/DESTRIADI YUNAS JUMASANI
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono (kemeja putih topi hitam) didampingi Wali Kota Pontianak, Sutarmidji meninjau penataan kawasan pinggiran Sungai Kapuas di Kampung Beting dan Kampung Tambelan Sampit, Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (20/12/2016) siang. Pembangunan kawasan ini ditargetkan selesai pada 2019 mendatang. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Syahroni

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Saat dibandingkan focus grup discussion (FGD) mengenai rencana peningkatan kawasan pemukiman Kampung Beting tidak hanya dari unsur pemerintah yang hadir, melainkan dari unsur masyarakat dan LSM juga dihadirkan untuk mendapatkan rumusan yang menguntungkan semua pihak dan berkelanjutan.

Satu di antara perwakilan LSM yang hadir dalam acara tersebut adalah perwakilan dari Bisnis Development Center Zambrut Khatulistiwa, Beny Thanheri.

Beny diharapkan dapat memberikan masukan kepada tim perumus Detail Engineering Design (DED) dalam perencaan peningkatan kawasan Kampung Beting yang ditargetkan tidak hanya memperindah kawasan melainkan bagaimana caranya dapat meningkatkan taraf hidup warga sekitarnya juga.

(Baca: Penanganan Kawasan Beting dan Masjid Jami Pemkot Terkendala Material )

Beny yang tergabung dalam beberapa komunitas ini berharap dengan adanya pemugaran Kampung Beting dan Masjid Jami berharap adanya penanganan yang terintegrasi mulai dari masalah pembangunan sampai masalah sosialnya.

"Kita berharap adanya pembangunan yang terintegrasi tidak hanya dari bangunan semata melainkan aspek-aspek sosial juga harus diperhatikan," ungkapnya, Jumat (17/11/2017).

Beny yang tergabung dalam komunitas Gerakan Sungai Kapuas ini juga berharap ada solusi konkret terkait penangan sampah. Sehingga pengunjung nantinya bisa merasakan kenyamanan apabila berkunjung di kawasan Kampung Beting yang disiapkan sebagai objek wisata unggulan Kota Pontianak.

Terpenting menurutnya adalah saat pemugaran tidak mengubah dari bagian masjid dan pemukiman Kampung Beting secara menyeluruh, karena itulah nilai historis dan memiliki daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung.

"Dalam pemugaran jangan sampai mengubah secara keseluruhan, harus ada titik-titik yang dipertahankan keasliannya karena itulah yang mempunyai daya tarik. Apabila banyak wisatawan yang berkunjung kesana maka secara otomatis perekonomian masyarakat setempat menjadi lebih baik," harapnya.

Kampung Beting dinilainya banyak potensi dan banyak masyarakat yang ingin mengubah image yang ada saat ini, namun yang terekspose adalah hal-hal negatif, sehingga citranya sendiri menjadi negatif.

Ia akui aktif di gerakan kerelawanan dan terbilang sangat sering masuk ke Kampung Beting berinteraksi bersama masyarakat setempat. Disana banyak masyarakat yang bergerak untuk kegiatan sosial budaya dan kerajinan.

"Adanya program seperti ini dan wisata bisa meningkat kemudian ekonomi masyarakat juga meningkat, ketika ramai pengunjung wisata usaha makanan dari warga juga akan berjalan," jelasnya.

Bukan tanpa kendala, Beny tegaskan masih mempunyai tantangan kedepannya bagaimana pemerintah menyiapkan kelompok masyarakat setempat atau sumber daya yang bisa membuat konsep pariwisata.

"Misal paket wisata khusus Kampong Beting. Saat ini belum ada yang menyentuh itu, walau ada kunjungan, sifatnya situasional, hanya begitu saja, padahal di sana ada kawasan budaya, rumah batik, sehingga nanti ada paket misal makan di rumah warga dan bagaimana rumah warga bisa dijadikan home stay," tambahnya.

Penulis: Syahroni
Editor: Rizky Zulham
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved