TribunPontianak/

Laka Maut Ampera

Sosok Hasan di Mata Teman Sekolahnya di Madrasah Tsanawiyah Aswaja

Dengan agak malu Abel menuturkan sosok almarhum yang sering menjadi tempat curhat oleh teman-teman perempuannya.

Sosok Hasan di Mata Teman Sekolahnya di Madrasah Tsanawiyah Aswaja
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/CLAUDIA LIBERANI
Madrasah Tsanawiyah Aswaja Jalan Husein Hamzah Kel. Pal 5, tempat almarhum Hasan bersekolah. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Claudia Liberani

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Ditemui di Madrasah Tsanawiyah Aswaja Jalan Husein Hamzah Kel. Pal 5 beberapa jam setelah kecelakaan yang menewaskan Hasanudin (13), teman sekelas almarhum di kelas 2 Abelia Safitri dan Dinda Femilia Dinata terlihat murung.

Mereka tampak sungkan sewaktu diajak mengobrol, namun selang beberapa menit, suasana mencair seiring bergulirnya pembicaraan mengenai sosok Hasan.

Dengan agak malu Abel menuturkan sosok almarhum yang sering menjadi tempat curhat oleh teman-teman perempuannya.

"Kalau ada yang bertengkar, biasanya dia yang buat kami baikkan. Dia pandai juga pegang rahasia, suka bercanda," katanya.

(Baca: Begini Kronologi Pelajar yang Tewas Kecelakaan di Jalan Ampera )

Abel mengaku sangat kehilangan.

"Ruang kelas yang hanya diisi 20 siswa pasti jadi sepi," tuturnya.

Sosok Hasan memang tidak dikenal menonjol secara akademik. Abel mengatakan dari segi akademik dia biasa saja, namun pembawaannya yang ramah dan ceria membuat mereka sekelas akan merasa kehilangan.

"Kami sudah sama-sama sejak kelas 7, di kelas juga tidak terlalu ramai jadi kalau sudah ada yang pergi begini ya jadi berkuranglah, sepi, sedih juga," kata Indah.

Dinda mengatakan tidak menyangkan Hasan pergi secepat itu, apalagi karena kecelakaan. Tidak ada tanda-tanda dia akan pergi dengan cara seperti itu, di kelas dia bukanlah anak yang nakal. Jarang membuat onar dan pandai bergaul baik dengan teman lelaki maupun perempuan.

Dinda dan Abel mengaku sangat sedih dan terkejut. Mereka seakan tidak percaya teman sekelas mereka telah pergi.

Mereka mengatakan akan merindukan sosok Hasan yang ceria. Sesaat sebelum Hasan meninggalkan sekolah, dia menyempatkan diri untuk memetik buah jambu di samping sekolah dan membawakannya ke kelas. Mereka tidak menyangka itu menjadi kali terakhir mereka melihat Hasan.

"Terakhir kali lihat Hasan tadi bawa jambu ke kelas, kita makan ramai-ramai. Sekarang dia sudah pergi. Kita seperti kehilangan satu warna dari banyaknya warna warni di kelas," kata Dinda.

Editor: Rizky Zulham
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help