TribunPontianak/

Citizen Reporter

BRG Berbagai Perguruan Tinggi Kunjungi Lahan Gambut Rasau Jaya

24 orang Para pakar tersebut diantaranya dari UGM, ITB, IPB, dan 7 perguruan tinggi di laur pulau jawa termasuk Universitas Tanjungpura.

BRG Berbagai Perguruan Tinggi Kunjungi Lahan Gambut Rasau Jaya
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Prof. Maas (kanan) saat melihat struktur tanah gambut di bawah tanaman jagung. 

Citizen Reporter
Yusril, LAPMI Pontianak

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KUBURAYA - Setelah melakukan kajian ilmiah terkait peningkatan tata kelola lahan gambut di wilayah Rasau Kalbar, para pakar gambut atau kelompok badan restorasi gambut (BRG) dari berbagai perguruan tinggi universitas di Indonesia melakukan kunjungan lapangan ke kawasan lahan gambut Desa Rasau Jaya 1 kecamatan Rasau Kabupaten Kubu Raya, Selasa (10/10/17).

24 orang Para pakar tersebut diantaranya dari UGM, ITB, IPB, dan 7 perguruan tinggi di laur pulau jawa termasuk Universitas Tanjungpura.

Diantara pakar ada Prof Maas (UGM), prof Zakaria (Untan).

(Baca: Lestarikan Budaya Saprahan, Pontianak Luar Biase )

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari kegiatan penelitian yang bekerja sama dengan Deputi Penelitian dan Pengembangan Badan Restorasi Gambut yang berkaitan dengan penataan air gambut, hal itu disampaikan Prof. Maas disela-kunjungan.

"Ini kegiatan tiga penelitian yang bekerja sama dengan Deputi Penelitian pengembangan teknologi, nah di Untan sendiri melakukan penataan lahan gambut, seperti airnya, bagaimana gambut tetap basah dan tidak mudah terbakar," jelas Maas.

(Baca: Universitas Panca Bhakti Pontianak Buka Wisuda ke-29 )

Ditegaskan Fahrizal wakil dekan 1 Fakultas Kehutanan Untan kunjungan Itu merupakan proses dari penelitian yang dilakukan oleh pihak kehutanan sendiri yaitu upaya pemilihan komuditas lokal yang akan dikembangkan di wilayah gambut.

Dimana penelitian ini akan berdampak pada tata lahan gambut itu sendiri

"Kita melihat dengan dilakukan penanaman komuditi lokal ini dampak pada kualitas tanah, dimana tidak dilakukannya pembakaran, dan pengaruh pada iklim," jelas Fahrizal.

Lanjutnya, setelah dilakukan penelitian dengan metode tersebut alhasil memberikan dampak positif terhadap lahan itu sendiri dan kepada masyarakat, terbukti dengan meningkatnya hasil panen dan struktur tanah gambut yang baik.

"Berubah signifikan sekali secara ekonomi masyarakat dan dari kualitas lahan itu sendiri, terlihat dari tingkat pendapatan hasil panen dan hasil survei juga yang dulunya hanya 2 hektar sekarang terus bertambah itu karena struktur tanahnya sudah baik," ungkapnya. (*)

Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help