TribunPontianak/

Petani di Sambas Keluhkan Anjloknya Harga Gabah

"Saat ini memang harga padi di lapangan sangat turun, sehingga menjadi perhatian bersama...,"ujar Juliadi

Petani di Sambas Keluhkan Anjloknya Harga Gabah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Juliadi, Sekretaris umum Gegertani Kabupaten Sambas. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Tito Ramadhani

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - Satu di antara petani Dusun Batu Bedinding, Desa Sungai Toman, Kecamatan Salatiga, Maria mengungkapkan, petani padi di desanya mengeluhkan anjloknya harga hasil pertanian padi dalam beberapa bulan terakhir.

"Saat ini untuk di daerah kami para petani mengeluh dengan kondisi harga pembelian padi yang murah. Dulunya masih bisa Rp 4200 bahkan kalau bagus mengeringkannya sampai Rp 5000. Tetapi untuk sekarang harga padi hanya Rp 3500, bahkan ada juga yang sampai Rp 3000, itu pun susah mau jualnya," ungkapnya, Rabu (13/9/2017).

Maria menambahkan dengan kondisi harga seperti itu, dapat membuat para petani tidak bersemangat untuk menanam padi.

(Baca: Membanggakan! Pemuda Sungai Kumpai Ini Bawa Perpustakaan Semayong Institute Raih Juara 3 Nasional )

Ini lantaran, dengan pengerjaan lahan sudah mengeluarkan modal yang tidak sedikit.

Sehingga ketika panen dengan harga jual seperti itu, dapat dipastikan para petani mengalami kerugian.

"Kami sangat berharap kepada Pemerintah Daerah Sambas, untuk bisa mencarikan solusi buat petani, terutama masalah harga, karena dengan harga yang baik menjadi penyemangat untuk bertani," ujarnya.

Sekretaris umum Gegertani Kabupaten Sambas, Juliadi membenarkan tentang kondisi anjloknya harga gabah atau padi di setiap dusun maupun desa yang ada di Kabupaten Sambas.

"Saat ini memang harga padi di lapangan sangat turun, sehingga menjadi perhatian bersama. Pemerintah dan SKPD terkait harus bisa mencarikan solusi yang terbaik untuk petani," jelasnya.

Lanjutnya, sektor pemasaran dan pengolahan hasil juga harus dikelola dengan baik, sehingga kendala harga pun bisa di atasi bersama.

Kabupaten Sambas selama ini menurutnya merupakan daerah lumbung pangan terbesar di Kalimantan Barat.

"Tetapi jangan sampai menjadi lumbung kemiskinan, dan ke depan Sambas harus membentuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di bidang Tanaman Pangan. Gegertani saat ini juga fokus membina dan mendampingi pemuda tani di Kabupaten Sambas, karena partisipasi dan pemikiran pemuda sangat di perlukan untuk kemajuan pertanian di Sambas," sambung Juliadi.

Penulis: Tito Ramadhani
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help