TribunPontianak/

Indonesia Diprediksi Jadi Negara 5 Besar Dominasi Perekonomian Global, Ini Kata Eddy Suratman

Lembaga akuntan publik, PricewaterhouseCoopers (PwC) memprediksi Indonesia termasuk ke dalam 5 besar negara berkembang yang mendominasi

Indonesia Diprediksi Jadi Negara 5 Besar Dominasi Perekonomian Global, Ini Kata Eddy Suratman
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / MASKARTINI
Pelabuhan Ceremai Paloh, Sambas merupakan bukti komitmen pemerintah dalam pembangunan. Dimana merupakan akses menuju perbatasan. 

Laporan Wartawati Tribun Pontianak, Maskartini

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Lembaga akuntan publik, PricewaterhouseCoopers (PwC) memprediksi Indonesia termasuk ke dalam 5 besar negara berkembang yang mendominasi perekonomian global pada 2030 mendatang.

Menanggapi hal tersebut, ini tanggapan Pengamat Ekonomi Universitas Tanjungpura Pontianak, Eddy Suratman.

(Baca: LDII Nilai Pemahaman Intoleran di Medsos Ancaman Besar Keutuhan Bangsa )

Menurut saya wajar biasa aja, karena memang tempatnya di situ. Sekarang kita berada di 15 besar dunia sehingga menjadi 5 besar pada 2030 mendatang memang sudah sepantasnya. Untuk menjadi negara dengan kekuatan ekonomi 5 besar di dunia yang pertama kita harus menjaga stabilitas politik. Jangan ribut terus karena dengan adanya gejolak politik misalnya, investasi terhambat.

Jadi stabilitas politik menjadi keniscayaan agar investor percaya dengan uang yang ditempatkan di Indonesia akan aman. Kedua, harus ada peningkatan kualitas SDM karena peringkat human development indeks kita masih pada kategori sedang dan harus masuk kategori tinggi. Ketiga infrastrukturnya seperti yang sekarang dilakukan oleh pemerintah, harus diteruskan. 

(Baca: Hadiri Haornas ke 34, Ini Pesan Bupati Jarot )

Belanja infrastruktur pemerintah saat ini cukup besar. Meskipun banyak yang tidak sabar melihat dampak belanja infrastruktur yang lamban. Karena memang belanja infrastruktur dampaknya tidak seketika. Hasilnya baru bisa dirasakan 3 hingga 4 tahun kemudian. Orang banyak mencemooh pemerintah, katanya menambah utang, menurut saya menambah utang tidak kenapa asalkan peruntukannya untuk infrastruktur dan belanja produktif.

Jika belanja infrastruktur dijaga dan akan dipertahankan terus sampai 3 tahun yang akan datang, saya kira prasyarat kita masuk ke 5 besar dunia bisa terpenuhi. Karena jika infrastrukturnya bagus investasi berjalan, hilirisasi industri bisa tumbuh di mana-mana. Saat ini problem kita mau naik kelas dari menjual setengah barang jadi menjadikan ekspor barang jadi. 

Hambatannya adalah industri kita tidak bisa jalan karena listriknya tidak cukup, jalan belum memungkinkan, pelabuhan belum memadai, jadi infrastruktur harus fokus. Paling tidak empat hal itu yang harus kita lakukan agar kita bisa masuk menjadi 5 negara dengan ekonomi terkuat di dunia. SDM Indonesia juga sudah cukup bagus. Belanja APBN belanja pendidikan tidak pernah di bawah 20%.

(Baca: Ketua KTI Kalbar Komit Matangkan Potensi Ari Agustian )

Selain itu berapa banyak anak-anak muda yang dikirim ke negara-negara maju untuk sekolah dengan beasiswa LPDP itu, setiap tahun ada ribuan. Ada banyak mahasiswa yang berasal dari kampung mendapatkan beasiswa Bidikmisi yang merupakan beasiswa miskin berprestasi. Bagi yang di kampung kuliah bukan lagi barang mewah karena bisa gratis.

Artinya pemerintah memang fokus pada SDM, kita sudah pada jalan yang benar. Hanya kesabaran diperlukan bahwa hasilnya tidak bisa seketika. Infrastruktur yang sudah dibangun otomatis dimanfaatkan, namun yang menjadi soal adalah manajemen pengelolaannya dan kualitas infrastrukturnya jangan sampai dibangun tahun ini dan rusak pada tahun depan.

Selain empat hal di atas, kelima perlu pengendalian korupsi. Sehingga infrastruktur yang dibangun memenuhi harapan. Kenapa? karena investor internasional mempunyai standar ketika ingin membangun di suatu daerah. Mereka melihat apakah jalannya memenuhi standar untuk mengangkat barang sehingga kualitas infrastruktur penting dan mempengaruhi investasi sehingga korupsi harus dikendalikan.

Penulis: Maskartini
Editor: Nasaruddin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help