TribunPontianak/

Satpol PP Ungkap Alasan Gelar Razia Warnet di Pontianak

Razia terakhir di kawasan Pal 3, Jalan M Yamin, Jalan Karya Sosial, dan Jalan RE Martadinata akhir pekan kemarin, ada empat warnet terjaring.

Satpol PP Ungkap Alasan Gelar Razia Warnet di Pontianak
net
Ilustrasi

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Wahidin

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pemerintah Kota Pontianak telah menetapkan aturan operasional warung internet (warnet) hanya sampai pukul 23.00 WIB, namun kenyataannya di lapangan banyak pengelola warnet yang membandel.

Kabid Penegakan Perundang-undangan Daerah, Satpol-PP Kota Pontianak, Nazaruddin mengatakan dari razia terakhir di kawasan Pal 3, Jalan M Yamin, Jalan Karya Sosial, dan Jalan RE Martadinata akhir pekan kemarin, ada empat warnet terjaring.

Warnet tersebut dirazia karena jelas melanggar aturan dengan tetap beroperasi di atas jam yang telah ditetapkan. Ada yang tetap buka hingga pukul 23.35 WIB, bahkan ada pula yang sampai pukul 00.00 WIB.

"Rata-rata yang kami dapat ini, mereka yang sudah pernah terjaring. Mereka sudah tahu, harusnya, sudah pernah satu kali tapi masih melanggar. Hanya ada satu yang baru satu kali (terjaring) di Jalan Ampera. Itu baru buka," ucapnya kepada Tribun Pontianak, Kamis (7/9/2017) siang.

(Baca: Razia Warnet, Sutarmidji: Turnamen Dota Tingkat Dunia di Warnet? )

Pengelola warnet yang membandel ini pun disita komputernya dan KTP pengelola dicatat untuk ikut sidang tipiring. Mereka yang sudah tiga kali terjaring, komputernya akan ditahan walau sudah ikut sidang. Lamanya tergantung pertimbangan.

"Karena sudah tiga kali kan artinya bandel. Ada juga yang di Jalan M Yamin, buka sampai 23.30 WIB, alasannya karena ada pemain yang tidak mau pulang," ucapnya.

Soal sanksi tipiring, besarnya bervariasi. Mulai dari 500 ribu sampai tiga juta. Sementara dalam Perda Nomor 1 Tahun 2010 tentang Ketertiban Umum, denda maksimal 50 juta dengan subsider kurungan tiga bulan. Semuanya tergantung penetapan hakim.

"Kami sarankan kepada pemilik warnet beberapa jam sebelum waktu tutup diumumkan ke pemain, agar tahu. Setelah lewat waktunya bisa dimatikan otomatis," sarannya.

Tak dipungkiri makin malam pemain warnet makin ramai. Disinggung soal pemain kompetensi DOTA tingkat Asia yang gagal bersaing lantaran warnet tempat bermain dirazia petugas, Nazaruddin menerangkan semestinya mereka lapor lebih dulu.

"Kalau ada kompetisi game harus lapor. Diam-diam tidak bisa, karena kami anggap sama semua. Kalau ada acara semisal lomba atau apa, ketika minta izin pasti diizinkan. Asal lapor supaya tahu," jawabnya.

Pihaknya memiliki pertimbangan, ke depan warnet hanya boleh beroperasi sampai pukul 21.00 WIB. Jika ikut aturan buka pukul 07.00 WIB, 12 jam operasional dirasa cukup. Pertimbangan ini pun akan disampaikan ke Kasat Pol-PP.

Penulis: Wahidin
Editor: Rizky Zulham
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help