TribunPontianak/

Puncak Ritual Cung Yuan, Warga Tionghoa Bakar Kapal

Sementara sembahyang kubur kedua atau Cung Yuan (Shi Ku), dilaksanakan dari tanggal 1-15 pada bulan ke tujuh Imlek, biasanya jatuh pada bulan Agustus.

Puncak Ritual Cung Yuan, Warga Tionghoa Bakar Kapal
TRIBUN PONTIANAK/STEVEN GREATNESS
Warga Tionghoa melaksanakan ritual Cung Yuan atau ziarah kubur leluhur di Pemakaman Umum Tionghoa Singkawang, Jumat (1/9/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Steven Greatness

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Hari ini merupakan hari terakhir warga Tionghoa melakukan tradisi ziarah kubur yang kedua kali dalam setahun.

Warga Tionghoa dalam setahun melaksanakan ritual ziarah kubur sebanyak dua kali. Yakni ziarah atau sembahyang kubur pertama yang disebut Ching Ming atau Ceng Beng biasanya jatuh antara pada Maret dan April.

(Baca: Antar Roh ke Kampung Halaman, Begini Ritual Etnis Tionghoa Kubu Raya )

Sementara sembahyang kubur kedua atau Cung Yuan (Shi Ku), dilaksanakan dari tanggal 1-15 pada bulan ke tujuh Imlek, biasanya jatuh pada bulan Agustus.

Hari terakhir ritual Cung Yuan, biasanya dilakukan upacara penutupan perebutan yang dinamakan Yi Lan Sen Hui (Chiong Shi Ku dialek Hakka, dan Chio Si Kow dialek Tio Ciu).

(Baca: Warga Padati Lapangan Bakti Suci Parit Baru, Ternyata Ini yang Dincar )

Pada acara puncak Yi Lan Sen Hui dilakukan pembakaran replika kapal (Jong Son atau Wang Kang) yang diisi dengan berbagai komoditi buah-buahan seperti nenas, keladi, umbi-umbian, sayuran, dan lain sebagainya.

Selain itu, juga terdapat perlengkapan sembahyang di antaranya uang kertas dan peralatan lainnya yang terbuat dari kertas.

Sedangkan tujuan ritual perebutan tersebut untuk membubarkan secara halus berakhirnya Yi Lan sen Hui atau Shi Ku yang telah disediakan sepanjang hari tanggal 15 bulan 7 Imlek.

Sebab, kalangan Tionghoa percaya dengan ritual Yi Lan Sen Hui untuk mengantar roh-roh yang tak diurus keluarganya ataupun gentayangan kembali ke tempat asal masing-masing dengan tenang dan damai serta dengan harapan tidak mengganggu manusia di dunia. (*)

(Baca: Sore Ini, Warga Tionghoa Bakar Kapal dan Pesawat di Mempawah )

Penulis: Steven Greatness
Editor: Steven Greatness
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help