TribunPontianak/

Waspada! Bahaya Demam Berdarah Incar Anak Usia Sekolah

Karena anak-anak usia sekolah itu aktivitasnya sudah banyak, baik disekolah maupun bermain diluar sekolah

Waspada! Bahaya Demam Berdarah Incar Anak Usia Sekolah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / WAHIDIN
Dinas Kesehatan Pontianak, Sidiq Handanu 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Syahroni

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Sepanjang 2017 dari Januari hingga 18 Juli ini, ada 51 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Pontianak.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidiq Handanu mengatakan kalau Pontianak memang merupakan daerah endemik DBD, sehingga rasanya sedikit mustahil jika Pontianak ini bebas dari DBD.

Ia katakan pihaknya hanya bisa mengendalikan dan membuat program pencegahan saja agar tidak menjadi kejadian luar biasa (KLB).

"Pontianak ini adalah daerah endemis dan kasus demam berdarah pasti ada, nanun kita dari dinas kesehatan akan terus berupaya agar kejadian DBD ini tidak KLB," ucapnya, Selasa (18/7/2017).

Sejauh ini DBD di Kota Pontianak diakuinya memang tidak ada memakan korban jiwa, namun ada tren lain yang harus menjadi perhatian para orangtua dan pihak sekolah. Hal itu dikatakannya karena sejauh ini tren usia yang terkena DBD adalah anak yang seusia sekolah mulai dari masuk SD hingga SMP.

"Rentang usia yang terkena demam berdarah saat ini bergeser di anak usia sekolah. Karena anak-anak usia sekolah itu aktivitasnya sudah banyak, baik disekolah maupun bermain diluar sekolah," jelasnya.

Saat ini ia tegaskan anak-anak dibawah 5 tahun kasusnya sudah turun dan saat ini bergeser pada usia masuk SD sampai SMP.

Sedangkan kasus tertinggi terjadi di Pontianak Utara dan Barat. Handanu tambahkan kalau sekolah udah diantisipasi, baik fogging maupun program kesehatan sekolah, pembebasan jentik dan sebagainya.

Kadis kesehatan ini juga menyampaikan apa yang ditunggu selama ini dan dunia kesehatan impikan sudah terealisasi dimana sudah ada imunisasi untuk mencegah DBD.

Namun harganya sangat mahal dan saat ini masih belum di produksi massal, sehingga kemenkes masih menunggu.

"Sekarang ada program imunisasi DBD, tapi belum bisa dijadikan program karena vaksinnya masih mahal. Ia seperti imunisasi biasa, disarankan diberikan pada anak usia diatas 9 tahun. Vaksinnya sudah ada, tapi belum diambil oleh Kemenkes karena masih mahal. Tanggal 25 Juli ini ada sosialisasi dari dinas kesehatan mengenai itu," ujarnya.

Ia berharap ini nantinya gratis seperti program campak dan lainnya, sehingga masyarakat semuanya bisa diberikan vaksin.

Penulis: Syahroni
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help