TribunPontianak/

Petani Lada di Perbatasan Mengeluh Harga Lada Murah

Apai menjelaskan, komoditi lada merupakan salah satu penghasilan masyarkat perbatasan, bahkan sudah ada sebelum perkebunan kelapa sawit masuk di.....

Petani Lada di Perbatasan Mengeluh Harga Lada Murah
TRIBUNPONTIANAK/RAYMOND KARSUWADI
Ilustrasi tanaman lada. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Sahirul Hakim

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KAPUAS HULU - Petani Lada di Kecamatan Badau (Perbatasan Indonesia-Malaysia) mengeluh harga buah Lada saat ini sangat murah, hanya mencapai Rp 21 ribu per kilogram, dari harga biasanya atau normal Rp 100 ribu lebih perkilogram.

"Harga buah lada turun sekitar sebulan yang lalu, sementara harga pupuk lada semakin mahal. Akhir-akhir ini kami kecewa mengapa harga lada jauh murah. Jadi kami mau makan apa nantinya," ujar salah satu petani Lada di Kecamatan Badau, Apai kepada wartawan, Senin (17/7/2017).

Apai menjelaskan, komoditi lada merupakan salah satu penghasilan masyarkat perbatasan, bahkan sudah ada sebelum perkebunan kelapa sawit masuk di daerah perbatasan.

"Kami berharap, pemerintah mengambil langkah, atau kebijakan sehingga harga lada kembali normal seperti biasa, karena jika mengandalkan harga karet juga masih anjlok," ucapnya.

Baca: BREAKING NEWS: Sebelum Meninggal, Satrio Sempat Minta Air Putih

Selain itu kata Apai, pemerintah janga hanya memperhatikan perkebunan kelapa sawit, tapi juga harus melihat perkebunan lada dan karet, sehingga semua komoditi diperhatikan.

"Mengapa harus diperhatikan semua, karena menyangkut pertumbuhan ekonomi masyarakat," ungkapnya.

Sementara itu, Kasi Perlindungan Perkebunan, Bidang Perkebunan, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kapuas Hulu, J. Shofiar menyatakan murahnya harga lada saat ini karena dipengaruhi berbagai banyak faktor.

"Selain hukum permintaan, dan penawaran juga standar kualitas lada versi para pengumpul lada itu sendiri yang berlaku di pasaran," ujarnya kepada wartawan, Senin (17/7).

Shofiar menuturkan, pihaknya melalui penyuluh perkebunan telah berupaya menjangkau daerah-daerah produksi buah lada di Kapuas Hulu. Hanya saja belum begitu efektif, karena keterbatasan anggota penyuluh perkebunan.

"Kita saja hanya memiliki penyuluh sebanyak empat orang. Dari ke empat orang tersebut, tiga orang sudah senior sudah mau pensiun. Itu yang kendala yang kita hadapi selama ini," jelasnya.

Dalam hal ini kata Shofiar, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan PPL yang ada, apabila menemui kasus-kasus terkait perkebunan lada, maka harus koordinasi ke Bidang Penyuluhan.

"Saat ini kami baru mulai membentuk tenaga penyuluh perkebunan sesuai bidang-bidang perkebunan, seperti ada spesialis di perkebunan karet, lada , kopi, dan lainnya," ungkapnya.

Penulis: Sahirul Hakim
Editor: Mirna Tribun
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help