TribunPontianak/

Panen Perdana Uji Coba Sorgum Capai 7,6 Ton di Sintang

Hasil panen pertama untuk lahan uji coba seluas satu hektare itu sekitar 7,6 Ton

Panen Perdana Uji Coba Sorgum Capai 7,6 Ton di Sintang
ISTIMEWA
Panen perdana uji coba tanaman sorgum oleh Asisten III Administrasi Umum Setda Sintang Marchues Afen, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sintang Veronica Ancili, inisiator H Juwita (paling kiri) dan para petani selaku demonstrator di Desa Jerora, Kecamatan Sintang, belum lama ini. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rizky Prabowo Rahino

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG – Budidaya sorgum mulai diuji coba di Kabupaten Sintang. Komoditi pangan nomor lima setelah gandum, jagung, padi dan jelai ini dinilai cocok dengan kondisi cuaca, iklim dan tanah di wilayah Kabupaten Sintang.

Dari uji coba budidaya sorgum secara swadaya murni yang diinisiasi oleh Ir H Juwita Ssi dan Rinjani Mustofa serta didemonstrasikan oleh Kelompok Tani Tokang di Desa Jerora, Kecamatan Sintang sekitar empat bulan lalu. Hasil panen perdana sorgum cukup memuaskan.

“Hasil panen pertama untuk lahan uji coba seluas satu hektare itu sekitar 7,6 Ton. Mungkin panen ini adalah panen sorgum pertama kali di Sintang dan Kalbar,” ungkap Inisiator uji coba sorgum sekaligus Sekretaris Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Sintang, Juwita, Jumat (14/7/2017) Siang.

Juwita menambahkan sorgum bisa dipanen 3-4 kali dalam setahun tergantung varietas. Hasil panen meningkat pada panen kedua dan ketiga lantaran banyak tumbuh tunas-tunas baru. Produksi maksimal bahkan bisa mencapai 25-30 ton per hektare selama setahun.

“Uji coba ini saja sudah hampir mendekati hasil maksimalnya. Jika setahun kalikan saja,” katanya.

Sorgum punya kelebihan dari segi penanaman dan perawatan bila dibandingkan dengan empat komoditi  lainnya. Selain Sorgum bisa ditanam di lahan kering saat musim kemarau.

“Cara budidaya juga mudah bagi para petani. Adanya sorgum ini sesuai visi dan misi Pemkab Sintang mengembangkan multikultur. Tidak hanya bergantung satu komoditi saja, seperti karet yang harganya anjlok saat ini,” jelasnya.

Juwita mengatakan sorgum jadi alternatif memaksimalkan potensi lahan kering yang cukup luas di Sintang. Budidaya sorgum diharapkan bisa jadi mata pencaharian baru bagi para petani.

“Hanya saja kesulitannya faktor benih tidak tersedia, harus didatangkan dari Jawa. Seperti yang kita tanam ini dari Jember. Lalu, perlu edukasi bagi petani. Tapi itu semua akan diupayakan. Ini masih uji coba swadaya murni,” terangnya.

Ke depan, pemantauan akan terus dilakukan pada tanaman sorgum uji coba ini. Jika berhasil dan mendekati optimal, tidak menutup kemungkinan akan dikembangkan dengan pembuatan sentra berskala ekonomi. Semisal, satu kelompok minimal menanam sorgum seluas 30 hektare. Lantas, menjalin kerjasama dengan pabrik-pabrik yang siap menampung hasil produksi.

“Nanti kita sentuh melalui demplot, lalu dikawal oleh penyuluh dan teknologi rekomendasi. Ini masih uji coba, saya selaku inisiator bersama Pak Rinjani ingin melihat cocok atau tidak. Hasilnya memuaskan atau tidak,” tandasnya.

Penulis: Rizky Prabowo Rahino
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help