TribunPontianak/

Koperasi Sampah Khatulistiwa, Peningkatan Pendapatan Pemulung Berbasis Koperasi

Koska merupakan sebuah program yang digagas oleh tim pengusul Program Kreativitas Mahasiswa bidang kemasyarakatan.

Koperasi Sampah Khatulistiwa, Peningkatan Pendapatan Pemulung Berbasis Koperasi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Kegiatan Koperasi Sampah Khatulistiwa (KOSKA) yang digelar belum lama ini. 

Laporan Wartawati Tribun Pontianak, Listya Sekar Siwi

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Satu lagi nih gebrakan anak muda Pontianak yang ngasih manfaat kemasyarakat luas yaitu Koperasi Sampah Khatulistiwa (KOSKA).

Koska merupakan sebuah program yang digagas oleh tim pengusul Program Kreativitas Mahasiswa bidang kemasyarakatan yang diselenggarakan oleh Dikti tahun 2017.

Karya ini merupakan gagasan dari mahasiswa Universitas Tanjungpura, antara lain Sariyah, Maulini, Maya Andzela, Farhadiansyah dan Surtini beserta dua orang relawan, yakni Silvy Heriyanti dan Faji Yusni.

Satu diantara penggagas, Maya Andzela mengatakan dalam menjalankan program, tim dibimbing oleh dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura, yaitu Helma Malini, SE,MM,Ph.d.

"KOSKA merupakan satu kesatuan sistem solid yang diusung dengan model koperasi dengan tujuan untuk mengatasi permasalahan lingkungan dan ekonomi dengan memberdayakan pemulung di sekitar TPA Batulayang, Pontianak," kata Maya.

Baca: Untuk Dijual Kembali, Wanita ini Mengais Sampah di Kontainer Sampah Jalan KHW Hasyim

Kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh Tim KOSKA meliputi pembuatan pupuk kompos dan kerajinan tangan. Keduanya menggunakan bahan dasar dari sampah rumah tangga dan sampah anorganik yang masih dapat di daur ulang dari warga sekitar.

"Hingga saat ini ada 20 anggota yang tergabung dalam Koperasi Sampah Khatulistiwa baik perempuan maupun laki-laki. Ke dua puluh anggota ini mengikuti proses awal implementasi program koperasi, yaitu proses pembuatan pupuk kompos dan kerajinan tangan yang dilakukan secara berurutan," ungkapnya.

Dalam proses pembuatan pupuk kompos, Tim KOSKA terlebih dahulu membuat dan membagikan Komposter. Komposter tersebut dibuat secara sederhana dari ember bekas cat. Pembuatan komposter juga membutuhkan beberapa bahan lain, seperti paralon, keran air dan plastik sampah. Setelah komposter selesai dibuat, Tim KOSKA dibantu oleh Angkuts pada tanggal 13 Juni kemarin membawa komposter ke lokasi.

"Bersama ketua RT dan perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak, Tim mendistribusikan komposter ke 20 warga yang telah terdaftar sebagai anggota," ujar Maya.

Sembari mendistribusikan komposter, Tim KOSKA juga mengajarkan cara penggunaan komposter dan pemilahan sampah kepada warga. Sampah organik dari rumah tangga yang sudah terkumpul di dalam komposter, kemudian ditambahkan EM4 yaitu cairan untuk mempercepat pembusukan dalam pembuatan pupuk kompos dan selanjutnya akan didiamkan sekitar 2 minggu untuk proses pembusukan yang maksimal. Pupuk kompos yang dihasilkan berupa 2 jenis pupuk yaitu pupuk kompos kering dan pupuk kompos cair (lindi).

"Selain pembuatan pupuk kompos, tanggal 19 Juni kemarin Tim juga membagikan bibit tanaman seperti bibit cabai, sawi, kangkung dan tomat kepada 20 warga yang mendapatkan komposter. Harapannya warga sekitar semakin semangat untuk memanfaatkan sampah organik menjadi pupuk dengan menggunakan polibag," harapnya.

Ia juga berharap hasil dari penanaman tersebut dapat digunakan untuk konsumsi pribadi ataupun dijual kepada koperasi. Koperasi yang telah menjalin kerjasama dengan beberapa pihak, akan memasarkan hasil sayuran kepada masyarakat luas.

"Jika sampah organik diolah menjadi pupuk kompos, maka sampah anorganik diolah menjadi kerajinan tangan. Adapun jenis sampah yang diolah menjadi kerajinan berasal dari 4 bahan baku utama, yaitu koran, kantong plastik, kardus, dan botol plastik. Koran akan diolah menjadi tempat tisu, tempat buah, piring dan jenis lainnya. Kantong plastik akan diolah menjadi bunga. Bahan lain seperti kardus akan diolah menjadi laci kecil, gantungan, bingkai foto dan produk lainnya. Botol plastik akan diolah menjadi gelas, lampu gantung, dompet dan produk lainnya. Kerajinan tangan yang telah dibuat, selanjutnya dibeli oleh koperasi," tukasnya. 

Penulis: Listya Sekar Siwi
Editor: Rizky Zulham
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help