TribunPontianak/

Harga Bawang Putih Sempat Naik, Ini Penyebabnya Menurut Dwi Suslamanto

Peningkatan harga bawang putih disebabkan adanya permasalahan pasokan dari Tiongkok.

Harga Bawang Putih Sempat Naik, Ini Penyebabnya Menurut Dwi Suslamanto
TRIBUNPONTIANAK/MASKARTINI
Kepala Kantor Wilayah (KPw) Bank Indonesia Provinsi Kalbar, Dwi Suslamanto. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Maskartini

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - lnflasi Kalimantan Barat pada Mei 2017 sebesar 0,30% (mtm) lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya yang didorong oleh masih stabilnya harga mayoritas bahan makanan. lnflasi pada Mei 2017 terutama didorong oleh kelompok administered price yaitu kenaikan tarif angkutan udara dan tarif listrik.

lnflasi kelompok administered price tercatat sebesar 1,10% (mtm). Angka ini lebih rendah dari rata-rata inflasi kelompok administered price pada Mei 3 tahun terakhir yang tercatat m ngalami inflasi sebesar 2,05% (mtm). Kepala Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia Provinsi Kalbar, Dwi Suslamanto mengatakan inflasi ini didorong oleh kenaikan tarif angkutan udara dan tarif listrik.

Kenaikan tarif angkutan udara terjadi karena meningkatnya permintaan pada beberapa hari libur di bulan Mei. Peningkatan tarif listrik disebabkan penyesuaian tarif listrik untuk pelanggan pra bayar daya 900VA non subsidl tahap ill yang dilakukan pada bulan Mei 2017.

lnflasi kelompok inti cenderung rendah yang tercatat sebesar 0,08% (mtm), lebih rendah dibandingkan inflasi inti Mei 3 tahun terakhir yang sebesar 0,57% (mtm). Rendahnya inflasi inti pada bulan Mei 2017 didorong oleh penurunan harga gula pasir dan tarif pulsa ponsel. Penurunan harga gula pasir dipengaruhi oleh penurunan harga gula dunia.

Sementara itu, tekanan inflasi pada kelompok volatile food (VF) juga cukup rendah. inflasi kelompok VF pada Mei 2017 tercatat sebesar 0,14% (mtm) atau lebih rendah dibandingkan inflasi VF Mei 3 tahun terakhir yang sebesar 0,68% (mtm). Rendahnya inflasi kelompok VF diSebabkan oleh penurunan harga cabai rawit, bawang merah dan daging ayam ras.

Penurunan harga cabai rawit dan bawang merah didorong oleh meningkatnya pasokan karena panen di wilayah sentra produksi kedua komoditas tersebut. Namun, kenaikan harga bawang putih masih menahan penurunan inflasi kelompok VF. Peningkatan harga bawang putih disebabkan adanya permasalahan pasokan dari Tiongkok.

Namun, kenaikan harga tersebut tertahan sejak akhir Mei seiring dengan intervensi pemerintah untuk menstabilkan harga bawang putih di pasar. Ke depan, Dwi mengatakan tekanan inflasi Provlnsi Kalbar diperkirakan akan meningkat walaupun masih berada di level yang terkendali.

"Berdasarkan pemantauan pola historis selama llma tahun terakhir, tekanan inflasi bulan Juni 2017 mendatang terutama diprakirakan bersumber dari potensi risiko kenaikan angkutan udara harga kelompok volatile food diantaranya peningkatan daging ayam ras, telur ayam ras dan bawang merah," ujarnya.

Selain itu, masih terdapat potensi risiko inflasi tarif listrik karena efek penghapusan subsidl Iistrik bagi sebagian pelanggan 900VA di bulan Mei pada pelanggan paska bayar. Untuk memitigasi inflasi selama periode Ramadhan dan ldhul Fitri, Dwi mengatakan TPID Provinsi Kalbar terus memantau dan memastikan pasokan dan distribusi bahan kebutuhan pokok di wilayah Kalbar.

"Termasuk mengoptimalkan pemantauan harga komoditas kebutuhan pokok melalui aplikasi Gencil. Aplikasi ini merupakan kerjasama antara pemerintah Kota Pontianak, Pontianak Digital Strean dan Bank Indonesia. Aplikasi ini dapat di unduh melalui system android dan iOS," ujar Dwi.

Penulis: Maskartini
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help