TribunPontianak/

Siswa Aniaya Guru

Siswa Aniaya Guru di Kubu Raya, Ini Penjelasan Ketua PGRI Kalbar

Yang jelas prihatin, kenapa pendidikan sekarang ini seolah-olah kaya ad kesan tidak ada lagi penghargaan kepada guru

Siswa Aniaya Guru di Kubu Raya, Ini Penjelasan Ketua PGRI Kalbar
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/TITO RAMADHANI
Ketua Pengurus Provinsi PGRI Kalbar, Samion 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Syahroni

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Adanya peristiwa penganiayaan yang dilakukan oleh siswa terhadap gurunya yang notabennya adalah orangtuanya sendiri ketika berada di sekolah menimbulkan keprihatinan berbagai pihak dan menjadi tanda tanya besar terhadap dunia pendidikan yang ada di Indonesia khususnya di Kubu Raya.

Masih ingat kasus beberapa waktu lalu yang terjadi juga di Kubu Raya, seorang guru dianiaya juga dan hal itu kembali terulang lagi.

Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kalbar, Samion, mengatakan kalau hal tersebut menimbulkan keprihatinan dan sangat disayangkan, seorang murid dengan tega menganiaya gurunya sendiri.

"Yang jelas prihatin, kenapa pendidikan sekarang ini seolah-olah kaya ad kesan tidak ada lagi penghargaan kepada guru," ucap Samion.

Ini dikatakannya, akibat selama ini ketika guru memberikan bimbingan dan menegakan disiplin segala macamnya dan ada sentuhan yang merupakan bagian dari proses dan bagian dari penegakan disiplin. Tapi selama ini dianggap tabu, kalau guru menegakan disiplin itu sendiri.

Sehingga tidak ada penegakan disiplin pada siswa dan dampak besarnya guru jadi acuh dan akhirnya, inilah puncak dari perlakuan guru yang acuh karena tidak bisa berbuat menegakan disiplin, sehingga perilaku anak tidak karuan dan bahkan cendering brutal terhadap gurunya sendiri.

"Kalau kasus ini karena tidak naik kelas lalu menganiaya guru, maka jiwa brutalnya susah dibendung. Ini harus ada upaya bersama, makanya sekaramg sudah ada peraturan pemerintah perlindungan guru diharapkan bisa diterapkan sampai kabupaten kota yang ada," ucapnya.

Melihat kejadian ini, Samion mengharapkan setiap kabupaten-kota yanh ada di Kalbar bksa membuat peraturan daerah perlindungan guru. Ia sangat mengapresiasi Kota Pontianak yang melalui DPRD telah berinisiatif membuat Perda perlindungan guru sebagai turunan dari peraturan pemerintah.

"Saya harap semua kabupaten-kota bisa membuat seperti Kota Pontianak dan menjangkit semua pada daerah lain.  Dengan adanya Perda perlindungan guru maka itu bentuk untuk guru menegakkan disiplin," harapnya.

Baca: Kobaran Api Hanguskan Sejumlah Ruko di Bodok

Apa yang terjadi di Kubu Raya ia katakan adalah puncak dari penegakan disiplin yang sangat lemah disekolah, hal itu terjadi karena guru sendiri tidak berani memberikan teguran, apalagi kontak fisik karenna selalu salah dimata orngtua dan sebagainya.

"Walaupun sentuhan fisik bukan lagi satu-satunya penegakan disiplin, tapi kalau sudah sampai pada titik dimana guru tidak bisa menetegur maka akan terjadi, karena dirumah saja biasa tejadi teguran dan bahkan sentuhan fisik pada anaknya. Sementara di sekolah dibiarkan, namun orangtua mau anaknya beretika, disiplin dan sebagainya tapi ketika diarahkan beretika malah salah dimata mereka," tegasnya.

Selaku ketia PGRI ia berharap penegakan disiplin harus, karena memang krusial, makanya harus ada perlindungan sehingga guru merasa nyaman dan terarah dalam menjalankan tugas serta menegakan disiplin..

"Jadi satu-satunya ciri negara berkembang adalah dalam menegakan disiplin harus ada sentuhan sedikit. Apalagi disekolah, jangan hanya fikir dijaman reformasi ini tidak boleh kontak fisik, nah kejadian ini merupakan gunung es yang meledak akibat guru yang acuh tidak bisa menegakan disiplin," pungkasnya.

Penulis: Syahroni
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help