TribunPontianak/

Kerusakan Sungai Kapuas Memberikan Dampak Buruk Pada Kota Pontianak

Saat ini Midji katakan tingkat kekeruhan sudah mencapai hingga 56 persen bahkan di waktu tertentu bisa di atas 60 persen.

Kerusakan Sungai Kapuas Memberikan Dampak Buruk  Pada Kota Pontianak
TRIBUNPONTIANAK/SYAHRONI
Wali Kota Pontianak Sutarmidji, menanam pohon. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Syahroni

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Wali Kota Pontianak, Sutarmidji, mengatakan akibat kerusakan Sungai Kapuas, juga memberikan dampak pada Kota Pontianak, yang merupakan daerah hilir dari sungai tersebut.

Bahkan dikatakannya akibat kerusakan Sungai Kapuas, airnya menjadi keruh.

Padahal itu merupakan sumber air baku PDAM Kota Pontianak.

Saat ini Midji katakan tingkat kekeruhan sudah mencapai hingga 56 persen bahkan di waktu tertentu bisa di atas 60 persen.

"Jika tingkat kekeruhan 65 persen, itu tidak kondisi hujan, PH nya bisa 6-7 artinya air PDAM itu ketika diolah bisa diminum. Tapi kalau PH nya di bawah itu sudah terintrupsi air gambut kemudian tingkat air kekeruhannya di atas 60 persen maka PH nya 2,5-3. Untuk menaikkannya sampai 6-7 perlu menggunakan bahan kimia sehingga air PDAM itu bau," ucapnya, Senin (19/6/2017).

Baca: BREAKING NEWS: Kesal Tidak Naik Kelas, Siswa SMAN1 Kubu Pukul Kepala Gurunya dengan Kursi

Oleh karena itulah ia meminta pengertian dari masyarakat, saat air PDAM berbau, maka saat itu tingkat kekeruhan sedang tinggi dan interupsi air laut menyebabkan PH rendah, sehingga diperlukan banyak bahan kimia.

"Lain hal saat air asin masuk sungai Kapuas. di 1980an dulu , ketika hulu tak hujan sampai tiga bulan Sungai Kapuas masih aman. Tapi sekarang baru tiga minggu tak hujan, interupsi air laut sudah tinggi bisa mencapai 24 KM," jelasnya.

Air laut juga sampai pada penempat. Namun dikatakan Midji untungnya sekarang ini penempat sudah punya pipa 600, walau ada air asin bisa memproduksi sekitar 60 persen jadi tidak asin semuanya.

Untuk pengoptimalan layanan air PDAM, karena air Sungai Kapuas terkadang tidak bisa diandalkan maka pihaknya pun memperluas waduk agar tetap bisa memompa air hingga 10 jam untuk produksi sekitar 80 persen.

Saat ini kapasitas waduk hanya tiga jam saja.

Adanya penanaman pohon jika dilakukan secara masif dan terkoodinir diyakininya dapat memperbaiki DAS.

Namun yang paling penting menurutnya adalah penegakan aturan.

"Kalau perlu misalnya, dicarikan sumber pendapatan yang lain dari masyarakat itu sehingga tidak merusak DAS," pungkasnya.

Penulis: Syahroni
Editor: Mirna Tribun
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help