TribunPontianak/

Siswa Aniaya Guru

BREAKING NEWS: Kurang Hormat Dasar Prilaku Menentang

Yang dilakukan orangtua adalah mencegahnya, bukan menekannya bahkan membiarkannya untuk melakukan perlakuan yang negatif tadi

BREAKING NEWS: Kurang Hormat Dasar Prilaku Menentang
TRIBUNPONTIANAK/ANESH VIDUKA
Patricia Elfira Vinny. 

Laporan Wartawati Tribun Pontianak, Listya Sekar Siwi

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Patricia Elfira Vinny, Psikolog, mengatakan kasus EY (20), siswa kelas X SMAN 1 Kubu, Kecamatan Kubu, tega menganiaya PR (34),  guru honorer di sekolah tersebut karena tidak naik kelas tentu  sangat memprihatinkan.

"Biasanya ada dua faktor yang bisa menyebabkan ini terjadi, pertama adanya kecemasan yang mendalam akibat pengalaman yang kurang menyenangkan juga di rumah atau pengaruh lingkungan, dan juga pola perilaku yang dibiasakan misalnya memukul ketika marah," terang Patricia Elfira Vinny.

Kurang hormat itu tentu menjadi dasar munculnya perilaku menentang seperti ini. Namun dilihat kembali faktor lainnya yang dapat menjadi faktor utama pembentuk emosi dan perilaku maladaptif seperti ini.

"Bisa dilihat apakah di rumah mendapatkan perlakuan yang sama, atau mungkin di lingkungannya sehingga menjadi masukkan bagi seseorang untuk melakukan hal serupa pada orang lain," tambahnya.

Yang harus dilakukan pihak sekolah tentu melakukan mediasi dengan anak dan gurunya, jika terjadi salah paham bisa dilakukan kesepakatan, dan si anak juga diberikan punishment terkait perlakuannya. 

"Yang dilakukan orangtua adalah mencegahnya, bukan menekannya bahkan membiarkannya untuk melakukan perlakuan yang negatif tadi," imbuhnya

Bagaimanapun orangtua lebih memahami anak tersebut dibandingkan pihak sekolah, bagaimana ia mengelola emosinya dan bagaimana ia menyalurkan emosinya sehingga hal-hal seperti kasus tersebut bisa diminimalisir.

"Untuk kasus ini, anak ini mengalami masalah emosi tak stabil tipe impulsif. Dimana seseorang menjadi cenderung terburu buru mengambil keputusan yang akhirnya dapat merugikan diri sendiri dan orang lain," tambahnya lagi.

Upaya pencegahan tentu dilakukan sejak dini, karena individu tersebut tidak akan melakukan hal demikian secara tiba tiba terkecuali ia memiliki gejala gangguan jiwa. Gejala masalah emosi dan perilaku tentu sudah dapat diobservasi sejak dini (misal sejak ia duduk di kelas tersebut) sehingga dapat diminimalisir emosi dan perilaku yang negatif ini terjadi.

Jika sudah terjadi, harus diberi pembinaan oleh pihak berwenang. Kemudian bisa dibawa kepada ahli psikologis (psikolog) untuk mendapatkan terapi membentuk perilaku yang lebih adaptif.

Penulis: Listya Sekar Siwi
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help