TribunPontianak/

Siswa Aniaya Guru

Anggota DPRD Prihatin Siswa Pukul Guru

Hal inilah yang menggerusnya sedikit demi sedikit sehingga bisa berdampak pada keberanian seorang murid memukul guru

Anggota DPRD Prihatin Siswa Pukul Guru
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / MADROSID
Anggota DPRD Dapil Sungai Ambawang Kabupaten Kubu Raya, KH Hanafi Khalili 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Madrosid

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KUBU RAYA -Anggota DPRD Komisi IV Kubu Raya, KH Hanafi Khalil mengaku prihatin kasus  murid sampai berani memukul gurunya sendiri. Hal ini menunjukkan betapa bobroknya etika dan akhlaq anak-anak sekarang. Sangat berbanding terbalik, prilaku yang semestinya seorang murid lakukan kepada guru.

"Kejadian ini menunjukkan jaman sekarang, siswa hanya mengukur kepintaran IQ saja, namun untuk estetika, dan sopan santun kepada orang lain, atau guru sudah tidak menjadi hal utama. Hal inilah yang menggerusnya sedikit demi sedikit sehingga bisa berdampak pada keberanian seorang murid memukul guru," kata Hanafi.

Menurutnya, menjadi tamparan keras bagi semua pihak, di dunia pendidikan atas kejadian. Harus ada perhatian dari semua pihak pemerintah dan dinas pendidikan. Supaya jangan sampai ada kejadian berulang.

"Caranya tak ada lain, harus dengan benar-benar menanamkan nilai-nilai pancasila, agama serta kearifan lokal. Sebab, kita sebagai bangsa Indonesia sangat menjungjung tinggi adanya etika. Hal ini harus digalakkan kembali," ungkapnya.

Kepada para orang tua, sebaiknya jangan hanya fokus terhadap kecerdasan anak. Namun bisa juga memperhatikan masalah prilaku anak. Estetikanya, terhadap orang lain, kepada yang lebih tua, muda dan guru.

"Kultur bangsa kita sudah sangat jelas. Sejak dulu, mengajarkan bahwa sopan santun dan etika mematuhi guru merupakan bagian paling penting mengalahkan kepintaran IQ," tambahnya.

Ia menilai pelajaran agama juga punya peranan penting. Sebab, dalam ajaran agama terhadap guru selalu diutamakan. Makanya, pemerintah harus memberikan porsi dalam pendidikan dalam menggaungkan etika dan akhlak.

"Penanaman prilaku etika ini harus dilakukan sejak dini. Mulai dari lingkungan keluarga, tempat mengaji dan sekolah," paparnya.

Ia juga memandang idelanya pendidikan di dalam sebuah pondok pesantren atau asrama. Lantaran pendidikan dengan sistem asrama bisa mengontrol segala tindak tanduk siswa dari ia bangun hingga tidur kembali.

Halaman
12
Tags
Aniaya
Penulis: Madrosid
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help