TribunPontianak/

BPN Pontianak Kalah Gugatan Terkait Keabsahan 19 Sertifikat di PTUN

Jadi sertifikat itu tidak sah. Ini sejalan dengan tuntutan penggugat mengenai keabsahan sertifikat yang dikeluarkan itu

BPN Pontianak Kalah Gugatan Terkait Keabsahan 19 Sertifikat di PTUN
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
Andi Harun saat konperensi pers pada awak media di Sekretariat Inaker Kalbar, Jalan dr Wahidin Pontianak, Sabtu (17/6/2017) 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ridhoino Kristo Sebastianus Melano

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Pontianak kalah dalam gugatan keabsahan 19 sertifikat di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).

Gugatan itu dilayangkan Samsudin, Warga Kota Pontianak Gang Tebu, Kecamatan Pontianak Barat.

Gugatannya mempertanyakan keabsahan 19 sertifikat yang dikeluarkan BPN di atas tanah waris miliknya seluas 45 x 200 M2 di Jalan Parit Haji Husien II.

Sertifikat itu dikeluarkan Kepala Kantor Agraria yang saat itu dijabat Ribut Ngadiman, tahun 1988.

Ketua Tim Kuasa Hukum Penggugat Andi Harun mengatakan dalam putusan yang dikeluarkan hakim itu membatalkan 19 sertifikat yang dikeluarkan BPN itu.

“Jadi putusannya membatalkan 19 sertifikat itu. Jadi sertifikat itu tidak sah. Ini sejalan dengan tuntutan penggugat mengenai keabsahan sertifikat yang dikeluarkan itu,” katanya, Sabtu (17/6/2017).

Ia menuturkan sejumlah bukti ikut menguatkan putusan hakim tersebut. Di antaranya mendapatkan sertifikat yang diterbitkan tahun 1988. Namun anehnya pemilik sertifikat tersebut meninggal dunia tahun 1986.

Kedua, sertifikat ditandatangani Kepala Kantor Agraria Kota Pontianak Ribut Ngadiman saat itu. Anehnya, lanjut Harun, sebagai Kepala BPN ia juga menandatangani atas nama Kepala Seksi Pendaftaran Tanah. Bahkan tiga kolom tandatangan itu juga ditandatanganinya sendiri.

Kedua, lanjut dia, ditemukannya akta jual beli pada tahun 1992.  “Jadi ada apa ini. Orangnya sudah meninggal 1986 kok sertifikat terbitnya tahun 1988. Kemudian ada lagi akta jual beli tahun 1992. Inikan aneh, ada apa ini,” katanya.

Halaman
12
Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help