TribunPontianak/

Citizen Reporter

Wabup Sanggau Buka Penyuluhan Gerakan Keamanan Pangan Desa

BPOM diberi tugas dalam mengawasi keamanan pangan desa melalui pembentukan dan pengkaderan tim keamanan pangan di desa-desa

Wabup Sanggau Buka Penyuluhan Gerakan Keamanan Pangan Desa
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Wakil Bupati Sanggau, Yohanes Ontot saat membuka kegiatan penyuluhan Gerakan Keamanan Pangan Desa di Ruang Multimedia LPSE Kantor Bupati Sanggau, Kamis (18/5/2017). 

Citizen Reporter
Aabaliya
Humas Setda Sanggau

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SANGGAU - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Provinsi Kalimantan Barat menggelar penyuluhan Gerakan Keamanan Pangan Desa (GKPD) di ruang multimedia LPSE kantor Bupati Sanggau, Kamis (18/5).

Kepala Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Provinsi Kalimantan Barat, Corry Pandjaitan, menyampaikan permasalahan di Indonesia mengenai pangan adalah adanya bahan-bahan kimia yang dimulai dari proses budidaya hingga pengemasan produk akhir yang sudah siap dipasarkan ke masyarakat.

“BPOM diberi tugas dalam mengawasi keamanan pangan desa melalui pembentukan dan pengkaderan tim keamanan pangan di desa-desa, ” katanya.

Sebelumnya, pada tahun 2015 dan 2016, BPOM Provinsi Kalimantan Barat telah membentuk kader-kader tim Keamanan Pangan Desa di sejumlah wilayah seperti kabupaten Mempawah dan kota Singkawang. Tahun ini, BPOM segera membentuk GKPD di kabupaten Sanggau.

Baca: Harga Bawang Putih di Sanggau Capai Rp 70 Ribu Per Kilo

Di kabupaten Sanggau, lanjutnya, ada tiga wilayah yang akan menjadi pilot project program Gerakan Kemanan Pangan Desa. Diantaranya, desa Sukamulya, desa Lape, dan kelurahan Tanjung Sekayam.

“Pemilihan desa Sukamulya dan Desa Lape berdasarkan produk yang dihasilkan yaitu kerupuk dan tapioka, sedangkan kelurahan Tanjung Sekayam dipilih karena menjadi tempat wisata kuliner (Kampung Wisata Sentana). Tiga desa ini diharapkan dapat menjadi daerah percontohan keamanan pangan di Kabupaten Sanggau,” harapnya.

Hal senada juga disampaikan Wakil Bupati Sanggau, Yohanes Ontot, yang sekaligus membuka kegiatan GKPD di Kabupaten Sanggau. Dijelaskannya, pangan (makanan dan minuman) merupakan kebutuhan manusia yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Pangan yang dikonsumsi mempunyai pengaruh besar terhadap kesehatan.

“Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP), masih banyak ditemui produk-produk yang belum terdaftar Termasuk jajanan anak sekolah, jajanan yang dijual di warung maupun pedagang kaki lima (PKL) yang diindikasikan adanya bahan berbahaya seperti formalin dan boraks. Banyak pelaku usaha yang belum memperhatikan aspek higienitas dan sanitasi pada proses pembuatan pangan,” terangnya.

Hal tersebut dikatakannya bisa saja disebabkan ketidaktahuan atau kemudahan untuk mendapatkan bahan berbahaya yang kemudian disalahgunakan oleh segelintir oknum pelaku usaha. “kita perlu bersama-sama dalam mengawasi keamanan pangan,” katanya.

Ketua DAD Sanggau itu juga berharap, para kader Tim Keamanan Pangan Desa yang akan dibentuk nanti harus menularkan ilmu ini ke desa-desa lainnya. masyarakat harus terhindar dari produk-produk berbahaya agar jasmani dan rohani selalu sehat sehingga produktifitas pun tetap terjaga. “Apapun yang dijual di pasar harus aman untuk dikonsumsi masyarakat,” tegasnya.

Disamping itu, Ontot juga mengingatkan, tim GKPD juga harus bisa mengawasi keamanan jajanan kuliner yang akan menjadi hidangan pada saat bulan puasa nanti.

“Selama ini saya lihat itu masih higienis (kantin Ramadhan), tapi boleh juga nanti di cek kembali,” pungkasnya.

Penulis: Hendri Chornelius
Editor: Rizky Zulham
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help