TribunPontianak/

Kartius Larang Minuman Keras Selama Gawai

Tidak boleh ada minuman keras, terkecuali acara ritual. Pada saat pelaksanaan pembukaan tidak boleh ada arak

Kartius Larang Minuman Keras Selama Gawai
TRIBUN PONTIANAK / ANESH VIDUKA
Sejumlah panitia Pekan Gawai Dayak ke-32 bersama tokoh masyarakat adat Dayak dan para finalis bujang dara gawai mengikuti ritual adat ngampar bide di rumah Radakng, jalan Sutan Syahrir, Pontianak,  Jumat (19/5/2017) pagi. Ritual adat ini bertujuan untuk meminta keselamatan dari Jubata (Tuhan) agar pelaksanaan Pekan Gawai Dayak berjalan lancar sesuai rencana.  

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ridhoino Kristo Sebastianus Melano

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pembukaan Pekan Gawai Dayak (PGD) ke-32 akan dilaksanakan di rumah Radakng, Jalan Sultan Syahrir Pontianak, Sabtu (20/5/2017).

Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis dijadwalkan membuka kegiatan PGD ke-32. Berbagai persiapan dilakukan panitia. Tampak beberapa panitia sedang menyiapkan stan, memasang spanduk dan melakukan kesiapan lainnya.

Ketua Panitia Pekan Gawai Dayak (PGD) ke-32, Kartius menginginkan Gawai Dayak tahun ini diakui oleh nasional dan dunia sebagai warisan budaya tak benda.

Bahkan telah ada tim penilai yang datang untuk melihat agenda PGD ke-32 tahun 2017. PGD, kata kartius belum diakui nasional karena masih ada minuman keras dan judi dalam kegiatannya.

Makanya tahun ini panitia bertindak tegas. Tidak boleh ada minuman keras, terkecuali acara ritual. Pada saat pelaksanaan pembukaan tidak boleh ada arak. "Siapa yang bawa arak dan minuman kita tangkap," katanya, Jumat (19/5/2017).

Baca: 50 Nelayan Kalbar Ajukan Petisi Angket ke DPR RI

Lebih lanjut Kartius menjelaskan, larangan ini diberlakukan karena keinginan PGD masuk dalam agenda nasional dan diakui dunia.

Hal itu juga agar mereka tahu bahwa masyarakat Dayak juga menjunjung tinggi adat budaya yang tidak didomplengi hal-hal yang bersifat bukan budaya.

Menurutnya ada dua makna ritual adat, yakni suci dan tidak melakukan hal-hal yang tak baik. Budaya ini juga bisa menjadi perekat NKRI dan persatuan bangsa.

Halaman
12
Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help