TribunPontianak/

Dorong Kontraktor Daerah Berkompetisi Ditingkat Nasional

Dimana daya saing kontraktor daerah maupun nasional harus ditingkatkan karena negara-negara saingan merupakan negara “kaya” dan dipimpin oleh Amerika

Dorong Kontraktor Daerah Berkompetisi Ditingkat Nasional
TRIBUNPONTIANAK/MASKARTINI
Ketua Umum DPP Asosiasi Kontraktor Nasional (Askonas), Rahmatullah saat Rakerda II Askonas Kalbar. RAT ini juga dihadiri oleh Gubernur Kalbar, Cornelis 

Laporan Wartawati Tribun Pontianak, Maskartini

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Ketua Umum DPP Asosiasi Kontraktor Nasional (Askonas), Rahmatullah mengatakan jika kemarin Indonesia menyongsong masyarakat ekonomi Asean atau MEA, ia mengingatkan pada 2020, siap tidak siap Indonesia akan memasuki pasar global.

Dimana daya saing kontraktor daerah maupun nasional harus ditingkatkan karena negara-negara saingan merupakan negara “kaya” dan dipimpin oleh Amerika Serikat dan Eropa.

"Jika pada era MEA kita bersaing dengan negara di Asia, pada 2020 persaingan global. Saya termasuk yang merasakan persaingan dengan kontraktor negara-negara Asean untuk mendapatkan proyek internasional. Banyak sekali kelemahan dan banyak yang harus kita evaluasi, banyak sekali yang harus kita perbaiki," ujar Rahmatullah di Pontianak pada Selasa (16/5/2017).

Malaysia sendiri diakuinya sudah menerapkan sistem yang lebih canggih, oleh karenanya Indonesia perlu banyak evaluasi.

Baca: Gara-gara Berdebat Soal Ahok, Pemuda Ini Tikam Temannya Sendiri

Pada 2015 lalu dari 135 ribu jasa konstruksi yang ada di Indonesia 85 persennya merupakan jasa konstruksi menengah kebawah dan 15 persen jasa kontruksi menengah dan besar.

Namun secara pasar jasa konstruksi 15 persennya dikuasai seperti perusahaan Adhi Karya, Wika, Pulau Intan dan lain-lain

"Harus diperhatikan di Indonesia saat ini sudah ada sekitar 143 badan perusahaan jasa kontruksi, 83 persen adalah badan jasa skala kecil dan 17 persen adalah badan jasa skala menengah dan besar. Tetapi pasar jasa konstruksi 80 persen dikuasai badan jasa skala menengah dan besar. Ini lah yang harus menjadi perhatian, sedangkan 83 persen berbagi proyek yang hanya 20 persen karena 80 persennya digarap oleh badan jasa skala menengah dan besar," ujar Rahmatullah.

Tak heran kata Rahmatullah jika pembangunan bandara, pelabuhan, dan proyek besar hampir semuanya digarap oleh kontraktor besar. Sehingga saat ini belum ada badan usaha daerah yang mampu tampil berkompetisi di tingkat nasional dan internasional.

Halaman
12
Penulis: Maskartini
Editor: Mirna Tribun
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help