TribunPontianak/

Antisipasi Kenaikan Harga, Dinas Perdagangan Gelar Operasi Pasar

Hukum ekonomi ya kan begitu, harga naik kalau permintaan naik dan stok tetap atau kurang di pasaran.

Antisipasi Kenaikan Harga, Dinas Perdagangan Gelar Operasi Pasar
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/MASKARTINI
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro Perdagangan Kota Pontianak, Haryadi S Triwibowo 

Laporan Wartawati Tribun Pontianak, Maskartini

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok jelang ramadan, Pemerintah Kota Pontianak akan melakukan operasi pasar.

Hal ini kata Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan Kota Pontianak Haryadi S Triwibowo merupakan giat rutin yang dilakukan pihaknya dalam rangka mengendalikan harga barang.

"Hukum ekonomi ya kan begitu, harga naik kalau permintaan naik dan stok tetap atau kurang di pasaran. Untuk menghadapi ramadan kami memperkirakan stok saat ini cukup. Selain melakukan operasi pasar, kami juga akan menggelar bazar murah jelang ramadan yaitu akhir Mei ini," ujar Haryadi saat dihubungi tribun pada Minggu (14/5/2017).

Haryadi mengatakan guna mengendalikan harga yang tak terbendung hingga hari besar, pihaknya juga akan melakukan pengawasan ke pasar-pasar tradisional.

Selain itu pengawasan juga akan dilakukan ke agen selaku distributor yang mensuplay barang untuk memantau ketersediaan barang dan harga barang.

Baca: Atasi Inflasi Ramadan, Tim TPID Siapkan Virtual Meeting Via Aplikasi

Ia juga meminta masyarakat untuk tidak terlalu konsumtif menghadapi ramadan. "Kecenderungan masyarakat kita panik saat berbelanja persiapan ramadan.

Ini yang terkadang membuat oknum pedagang menaikkan harga, padahal stoknya banyak di gudang. Kami sendiri meminta kepada pedagang agar menyediakan stok bahan kebutuhan pokok selama 6 bulan, jadi aman," ujarnya.

Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan kata Haryadi akan bekerjasama dengan perusahaan BUMD dan BUMN serta berkoordinasi dengan Bulog dalam rangka operasi pasar murah.

"Kami akan gelar operasi pasar murah dalam rangka pengawasan dan pengendalian harga. Sasarannya adalah masyarakat yang kurang mampu secara ekonomi terbantu," ujarnya.

Diakuinya ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan signifikan, seperti bawang putih yang harga ecerannya mencapai Rp50 ribu.

Terkait hal ini, ia mengatakan pihaknya sudah melakukan inspeksi ke distributor dan agen untuk meminta keterangan dari pelaku usaha terkait melonjaknya harga.

Kalbar sendiri memang tidak memiliki sentra pertanian bawang putih. Hal ini membuat suplay bawang putih tergantung dari daerah Jawa sebagai daerah pemasok.

"Tapi memang katanya kondisi cuaca yang kurang baik dengan curah hujan yang tinggi membuat pusat-pusat produksi bawang putih mengalami gagal panen. Ada kenaikan harga di Pulau Jawa karena stoknya terbatas, permintaan meningkat, sehingga terjadi lah kenaikan harga," akunya.

Penulis: Maskartini
Editor: Rizky Zulham
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help