TribunPontianak/

Cegah Paham Radikal, Heriansyah Ajak Mahasiswa Pahami Keilmuan dari Berbagai Sumber

Kita harus berangkat dari fakta dan data, mencari referensi dalam sebuah keilmuan kemudian pendalaman kembali sebuah materi itu

Cegah Paham Radikal, Heriansyah Ajak Mahasiswa Pahami Keilmuan dari Berbagai Sumber
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / RAYMOND KARSUWADI
Suasana kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Tingkatkan Sinergi Keutuhan NKRI Antisipasi Faham Radikalisme di Kabupaten Sambas, Bertempat di Aula Dhira Wijaya, Mapolres Sambas, Jumat (5/5/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Raimon Karsuwadi

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - Presiden Mahasiswa, IAIS Sambas, Heriansyah mengatakan bahwa mahasiswa harus bisa memahami dan memilah keilmuan dengan pertimbangan dari berbagai sumber.

"Paham radikal ini berasal pada pemahaman yang dangkal pada keilmuan. Jadi harus dipahami betul-betul dengan melihat dari berbagai sudut pandang. Kita sebagai mahasiswa harus jeli memahaminya," ujarnya, Jumat (5/5/2017).

(Baca:  Pasukan Gabungan Hadang Massa FPI Saat Menuju Bandara)

Sebagai kaum intelektual, kata Heriansyah diskusi, menggali keilmuan dari berbagai sumber sebagai referensi menjadi keharusan.

"Kita harus berangkat dari fakta dan data, mencari referensi dalam sebuah keilmuan kemudian pendalaman kembali sebuah materi itu yang harus kita lakukan untuk menepis faham radikal dari luar yang mencoba masuk," ujarnya.

Lanjutnya, seperti telah dijelaskan oleh Bupati Sambas, Atbah Romin Suhaili dalam kata sambutannya bahwa toleransi antar umat beragama juga harus terus dijaga.

"Rasa toleran penting seperti dijelaskan pak bupati, sebelum islam besar, zaman terdahulu Rasul dan sahabat memandang toleransi sangat penting. Hanya karena tidak sepaham, kita tidak boleh melakukan kekerasan, saling menyalahkan atau memusuhi, kita harus bertoleransi terhadap perbedaan," ujarnya.

Milenials, sebuah kata untuk mencerminkan keadaan sekarang, dimana jari bahkan tak bertulang.

Saat ini, orang lebih suka berkata menggunakan jari. Membagi ke dalam tempat yang mereka sebut media sosial.

Banyak kabar miring bertebaran di media sosial, membawa isu sara, agama, politik tidak jarang hanya berupa Hoax.

Adnan menambahkan bahwa, penyaringnya ada pada diri masing masing. "Kita harus memfilter apa yang ada di media sosial, tidak semuanya benar. terdapat dasar cek ricek, mencari kebenaran, sama seperti memperdalam keilmuan membandingkanya dengan sumber lain, kita harus bijak dalam menggunakannya," tandasnya.

Penulis: Raymond Karsuwadi
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help