TribunPontianak/

Merinding, Warga Lakukan Ritual Beri Makan Buaya di Sungai Mempawah

Kami sudah lepas tanggung jawab, cukup melakukan apa yang mereka minta ini, kami sudah ikutkan

Merinding, Warga Lakukan Ritual Beri Makan Buaya di Sungai Mempawah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / DHITA MUTIASARI
Warga Desa Sejegi melaksanakan ritual antisipasi serangan buaya di Sungai Mempawah, Kamis (20/4) petang. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Dhita Mutiasari

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, MEMPAWAH - Tiga Ekor ayam jantan dan tujuh butir telur ayam sudah disiapkan warga dipinggiran Sungai di Desa Sejegi Kecamatan Mempawah Timur Kabupaten Mempawah tepat matahari sesaat terbenam diufuk barat, Kamis (20/4/2017) petang.

Sesepuh yang dituakan di desa bersama aparat desa, 'bahan' yang disiapkan sejak sore tersebut siap diantarkan ke sejumlah tempat yang dianggap merupakan sarangnya buaya di Sungai Mempawah sebagai bagian dari ritual ganti rugi atau memberi makan buaya.

Hal ini menyikapi 'permintaan' dari buaya penunggu sungai Mempawah yang disampaikan melalui pesan seorang warga yang kemasukan roh beberapa hari lalu untuk meminta 'ganti rugi' karena mereka merasa habitatnya terganggu oleh ulah manusia hingga akhirnya mereka ikut mengganggu warga dipinggiran Sungai Mempawah saat tengah beraktivitas.

Disebutkanlah sesepuh Desa Sejegi Utin Asmilah (78) yang melaksanakan proses ritual memberi makan buaya di Sungai Mempawah tersebut bahwa cukuplah warga desa berupaya melakukan upaya antisipasi atas fenomena serangan buaya yang menimpa sejumlah warga beberapa hari ini.

"Kami sudah lepas tanggung jawab, cukup melakukan apa yang mereka minta ini, kami sudah ikutkan,"ujarnya ditemui usai pelaksanaan ritual, Kamis (20/4) malam.

Warga Desa Sejegi melaksanakan ritual antisipasi serangan buaya di Sungai Mempawah, Kamis (20/4/2017) petang.

Warga Desa Sejegi melaksanakan ritual antisipasi serangan buaya

di Sungai Mempawah, Kamis (20/4/2017) petang.

Ia berharap usai dilaksanakan ritual ini tidak akan ada lagi warga yang menjadi korban terkaman buaya. Bahkan ia mengaku jika masih ada peristiwa insiden serupa hingga menyebabkan warga sekitar menjadi korban, maka pihaknya menyerahkan sepenuhnya penanggulangannya kepada pemerintah daerah.

"Habis ini udah, kalau masih terjadi satu hari, kita serahkan ke pemerintah mau diapakan, mau diapakan terserah, kita ndak tanggung jawab lagi,"ujarnya.

Ia berharap 'permintaan' buaya ini cukup satu kali ini saja, ia berharap setelah itu tidak ada lagi permintaan lainnya. "Jangan sampai abis ini minta itu, minta ini, cukup satu kali ini saja kita kasihkan,"  tambahnya.

Ia mengatakan setelah menyiapkan bahan dan sejumlah warga didampinginya langsung lantaran dianggap yang dituakan didesa, mereka lantas berangakat menggunakan perahu motor dan kemudian diantarkanlah bahan persembahan yang disiapkan tadi untuk makanan para buaya ini disejumlah titik diantaranya ditempat yang disebut warga lubuk buaya tak jauh dari jembatan Desa Sejegi, kemudian dibelakang gedung PNPM Desa Sejegi yang merupakan tempat buaya kerap memperlihatkan diri kepada warga dan kemudian di depan makam Habib Husein Desa Sejegi.

Maka doa-doa untuk keselamatan juga terlantun sepanjang pelaksanan proses ritual ini.  "Saya hanya membaca ayat kursi saja dari pergi hingga hari gelap, hanya waktu saya mau menjatuhkan ayam dan telur, saya memberi salam dengan Nabi Adam AS. Sampai di sungai saya kasih salam lagi dengan Nabi Khaidir, Nabi Sulaiman, kita memperkenalkan diri saya, kalau benar kami ini diakui anak cucu mereka, kami minta diterima 'persembahan' kami dan kami minta tidak diganggu,"ujarnya.

Penulis: Dhita Mutiasari
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help