TribunPontianak/

Citizen Reporter

Merawat Bumi di Kawasan Perisai Hijau Kalbar

Akhirnya kawasan mangrove mulai berkembang sebagai destinasi wisata yang mendukung perekonomian warga sekitar

Merawat Bumi di Kawasan Perisai Hijau Kalbar
ISTIMEWA
WWF dan sejumlah warga menanam mangrove di kawasan perisai hijau Kalbar. 

Sementara Inspirasi Kreativitas Biak Singkawang (IKBS) Kota Singkawang akan melangsungkan Peringatan Hari Bumi pada 21 – 29 April 2017 melalui serangkaian kegiatan. Mulai dari penanaman pohon, aksi bersih hutan mangrove, aksi kampanye lingkungan, seminar dengan tema Peran Dunia Pendidikan Dalam Menyikapi Krisis Lingkungan, lomba mural dan malam budaya di Kota Singkawang. 

Ahmad Maulana, Ketua IKBS, mengatakan pihaknya menyandingkan perayaan Hari Bumi dan Hari Pendidikan Nasional dengan mengusung tema “Aksi Untuk Bumi, Bumi Untuk Generasi”. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat khususnya pemuda dan pelajar Kota Singkawang untuk peduli terhadap alam. 

“Kegiatan ini akan diikuti perwakilan dari 27 SMA dan delapan kampus yang ada di Kota Singkawang, serta dua lembaga mahasiswa. Salah satu target utama kami adalah dapat mengumpulkan satu ton sampah plastik yang berada di kawasan hutan mangrove Kuala Singkawang,” ucapnya. 

Sementara Kepala Bidang Pendidikan Menengah, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Singkawang Asmadi menghimbau semua pihak bersama-sama menghijaukan bumi. “Saya harap kerja sama tetap berlanjut antar komunitas, pemerintah, lembaga lingkungan serta masyarakat untuk menjaga bumi,’ pintanya.
Di sisi lain, Balai Wilayah Sungai I Pontianak dan WWF Indonesia, serta Kelompok Surya Perdana Mandiri (SPM) Setapuk Besar Kota Singkawang, juga akan menanam 2.000 bibit mangrove pada 5 Mei 2017. 

Ketua SPM Setapuk Besar, Jumadi mengatakan pihaknya menargetkan di tahun 2017 sebanyak 7.000 bibit mangrove akan ditanam di kawasan Hutan Mangrove Setapuk. “Upaya lanjutan yang sudah kami laksanakan sejak 2009 ini diharapkan dapat melindungi kawasan kami dari abrasi yang kian parah,” katanya.

Pria yang mendapatkan penghargaan Kalpataru pada 2015 ini menjelaskan, usaha yang sudah dilakukan sejak 2009 ini sudah membuahkan hasil. “Kawasan kami sudah terlindungi dengan baik. Selain hasil alam berlimpah, hutan mangrove Setapuk Besar sudah menjadi destinasi wisata dengan kunjungan lebih dari 1.000 wisatawan setiap minggunya,” jelasnya. (*)

Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help