TribunPontianak/

Link-Ar Borneo Desak Audit Social Investasi Perkebunan Sawit Skala Besar

Terdapat beberapa perusahan perkebunan sawit yang melakukan pembakaran lahan dan gambut untuk menanam sawit

Link-Ar Borneo Desak Audit Social Investasi Perkebunan Sawit Skala Besar
TRIBUN PONTIANAK/DESTRIADI YUNAS JUMASANI
Sejumlah warga membuat pembakaran di sebuah lahan yang terletak dekat Jalan Ahmad Yani II, Kubu Raya, Kalimantan Barat, Minggu (9/4/2017) sore. Meski tidak seluas pembakaran lahan untuk pembukaan lahan, pembakaran seperti turut memperparah polusi udara. TRIBUN PONTIANAK/DESTRIADI YUNAS JUMASANI 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Nasaruddin

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Masih terkait dengan Resolusi Parlemen Eropa, Direktur Eksekutif Link-Ar Borneo, Agus Sutomo mengatakan, di Kalbar sendiri terdapat beberapa perusahan yang masuk dalam kawasan hutan.

Dari hasil Korsup SDA di aula pertemuan kantor Gubernur Kalbar, terungkap  ada 60.000 hektare  kawasan hutan yang masuk konsesi perusahan perkebunan sawit. Sebagian telah digarap atau digusur untuk dijadikan perkebunan sawit oleh pemodal.

“Terdapat beberapa perusahan perkebunan sawit yang melakukan pembakaran lahan dan gambut untuk menanam sawit. Kemudian kambing hitamnya adalah masyarakat tani dan adat,” tegasnya.

Resolusi parlemen eropa menjadi kekuatan pemerintah untuk audit sosial dan lingkungan dalam tata kelola investasi perkebunan sawit skala besar. Oleh karena itu pemerintah hendaknya segera melakukan evaluasi dan audit lingkungan dan audit social investasi perkebunan sawit skala besar.

Kemudian pembenahan di tingkat pemerintah baik pusat dan daerah dalam pemberian ijin, sertifikasi, monev dan penerapan mandatory dalam UU dan peraturan.

“Bukan saatnya untuk menuding pihak luar yang terus disampaikan oleh perusahan dan pemerintah. Namun melakukan audit sosial dan lingkungan sehingga tata kelola dan tata kuasa menjadi lebih baik. Dimana hak-hak masyarakat jelas harus lebih di utamakan bukan hanya saat ada complain baru kita meyodorkan masyarakat, seakan-akan masyarakatlah pemegang kunci utama dalam sector perkebunan sawit skala besar, namun ketika tidak ada persoalan maka perusahan diam-diam manis karena mendapatkan keuntungan,” tutupnya.

Penulis: Nasaruddin
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help