Haitami Salim Tutup Usia

Haitami Salim Ternyata Satu-satunya Guru Besar di IAIN, Ini Kisah Pengabdiannya

Haitami Salim dikenal dikampusnya sangat produktif melahirkan karya-karya. Haitami juga merupakan satu-satunya guru besar di IAIN saat ini.

Haitami Salim Ternyata Satu-satunya Guru Besar di IAIN, Ini Kisah Pengabdiannya
IST
Prof M Haitami Salim (kanan), semasa hidupnya sangat aktif di berbagai kegiatan. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Syahroni

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, kehilangan sosok yang cerdas dan mempunyai andil besar memperjuangkan status perguruan tinggi tersebut dari sekolah tinggi ke inatitut.

Kasubag TU Humas dan Rumah Tangga IAIN, Aspari Ismail, mengatakan IAIN sangat kehilangan atas meninggalnya satu-satunya guru besar di IAIN Pontkanak, Prof M Haitami Salim.

Baca: Haitami Salim Wafat Karena Gagal Ginjal, Sempat 12 Hari Dirawat

"Kami dari IAIN merasa kehilangan tokoh yang jasanya sangat besar atas perkembangan IAIN saat ini. Beliau ini pernah menjabat Ketua STAIN yang kini berubah menjadi IAIN, dan itu juga berkat andil besar perjuangannya ketika duduk sebagai ketua selama dua periode yaitu dari 2002-2009," katanya.

Haitami Salim dikenal dikampusnya sangat produktif melahirkan karya-karya. Haitami juga merupakan satu-satunya guru besar di IAIN saat ini.

Baca: Hingga Akhir Hayatnya, Haitami Salim Masih Mengemban Sejumlah Jabatan

"Merasa kehilangan atas kepergian guru besar kami. Ia selalu memotivasi, tidak hanya pada mahasiswa melainkan pada semua dosen agar selau berkarya," katanya.

Haitami merupakan perintis STAIN Pontianak Press, yang saat ini telah banyak melahirkan buku-buku. Tidak hanya dari dosen IAIN tapi juga dosen-dosen perguruan tinggi lainnya.

Kata dia, SK pembentukan IAIN itu memang dimulai ketika Haitami Salim menjabat Ketua IAIN.

"Yang paling berkesan ke saya adalah beliau ini sosok yang sangat peduli dengan karyawan dan bawahannya. Ketika bertemu siapa pun selalu menyapa apa kabar dan apa kabar keluarga divrumah. Itulah kita merasa sangat dekat dan merasa jadi bagian dari keluarganya," kenang Ismail.

Editor: Marlen Sitinjak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help