TribunPontianak/

Kasus Asusila di Landak

BREAKING NEWS: Istri Tersangka Dengar Desahan Saat Hendak Masak Nasi

Tanpa disangka MA melihat PS sedang melakukan perbuatan cabul terhadap SL

BREAKING NEWS: Istri Tersangka Dengar Desahan Saat Hendak Masak Nasi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / ISTIMEWA
Tersangka cabul, PS saat diamankan di Polres Landak 

 Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Alfon Pardosi

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, LANDAK - Kepolisian Polres Landak berhasil mengamankan seorang tersangka berinisial PS (40) yang diduga melakukan aksi pencabulan terhadap SL (9) dan tercatat sebagai warga Desa Amboyo Inti, Kecamatan Ngabang, Selasa (18/4/2017) siang.

Kasat Reskrim Polres Landak, AKP Sutrisno, mengatakan hasil pemeriksaan terhadap MA. Diceritakan bahwa kejadian bermula di rumahnya di Desa Amboyo Inti, Kecamatan Ngabang pada tanggal 7 Februari 2017 sekira pukul 04.00 WIB.

"Saat itu MA bangun tidur dan pergi ke dapur untuk memasak nasi dan membuat kue, namun sekitar pukul 05.00 WIB MA mendengar suara rintihan anaknya (SL) dari dalam kamar, yang mana PS memang tidur dengan SL," beber Sutrisno.

Lanjutnya lagi, kemudian MA merasa curiga dan langsung menuju kamar untuk mendapati PS. Tanpa disangka MA melihat PS sedang melakukan perbuatan cabul terhadap SL. Atas kejadian tersebut MA datang ke Polres Landak untuk melaporkan kejadian itu.

"Pada saat dimintai keterangan terhadap SL, dirinya mengakui bahwa perbuatan cabul yang dilakukan oleh ayah tirinya tersebut sebenarnya sudah sebanyak tiga kali. Dimana perbuatan pertama dilakukan pada saat SL masih berusia 3 tahun," terangnya.

Baca:  PS Cabuli Anak Tiri yang Masih Bawah Umur

Selanjutnya perbuatan kedua dilakukan sekitar awal bulan Februari 2017 kemarin, sampai akhirnya yang ketiga kali diketahui oleh ibunya (MA). "Jadi saya mengharapkan kepada kita semua terutama orang tua, untuk tetap terus memberikan pengawasan terhadap anak-anaknya," pinta Kasat

Ditegaskan Elang, untuk kasus tersebut pelaku dapat dijerat pasal 82 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2016. Tentang penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak.

"Proses hukum ini akan terus tetap berlanjut. Kemudian pelaku bisa kita kenakan dengan ancaman kurungan minimal 5 tahun, dan maksimal 15 tahun penjara," tegasnya.

Penulis: Alfons Pardosi
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help