Tingkatkan Produksi Pertanian, 25 PPL dan POPT Ikuti Sekolah Lapang Iklim

Satu di antara tujuan dari kegiatan SLI tersebut, menurut Nurhayati peserta dapat memahami tentang kejadian cuaca ekstrim.

Tingkatkan Produksi Pertanian, 25 PPL dan POPT Ikuti Sekolah Lapang Iklim
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / TITO RAMADHANI
Sebanyak 25 PPL dan POPT dari Kabupaten Sintang, Kubu Raya, Bengkayang dan Kota Pontianak mengikuti Sekolah Lapang Iklim tahap II tahun 2017 Provinsi Kalbar, yang digelar Stasiun Klimatologi (Staklim) Mempawah - Kalbar selama dua hari, yakni sejak Senin (20/3/2017) hingga Selasa (21/3/2017). 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Tito Ramadhani

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK -  Sebanyak 25 orang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) dari Kabupaten Sintang, Kubu Raya, Bengkayang dan Kota Pontianak mengikuti Sekolah Lapang Iklim tahap II tahun 2017 Provinsi Kalbar, yang digelar Stasiun Klimatologi (Staklim) Mempawah - Kalbar selama dua hari, yakni sejak Senin (20/3/2017) hingga Selasa (21/3).

Sekolah Lapang Iklim (SLI) tahap II tahun 2017 Provinsi Kalbar ini dibuka di Azalea room Hotel Orchardz, Komplek Perdana Square, Jalan Perdana, Pontianak, pada Minggu (19/3/2017) malam.

Kepala Stasiun Klimatologi (Staklim) Mempawah - Kalbar, Wandayantolis mengungkapkan, sejak tahun 2012 SLI II sudah melatih 125 penyuluh dari seluruh Kalbar.

"Kemudian SLI III sudah melatih 75 petani di Kabupaten Kubu Raya, Mempawah dan Sambas. Tahun ini akan ke Kabupaten Kubu Raya dengan jenis tanaman yang berbeda. Kegiatan SLI III dan sosialisasi, melibatkan penyuluh (PPL) hingga akhir tahun," ungkapnya.

Kepala Pusat Meteorologi Publik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dra Nurhayati MSc mengharapkan kegiatan SLI tersebut dapat meningkatkan pemahaman peserta terhadap informasi iklim BMKG.

"Dengan mengerti dan memahami itu, mereka bisa menerapkan di praktek pertanian, dan tentu pada akhirnya ketika mereka bisa menyesuaikan masa tanam, kapan mulai menanam kemudian varietasnya apa yang ditanam itu hasilnya bisa lebih baik, jadi untuk pada akhirnya untuk ketahanan pangan," harapnya.

Satu di antara tujuan dari kegiatan SLI tersebut, menurut Nurhayati peserta dapat memahami tentang kejadian cuaca ekstrim. Karena semakin sering terjadinya cuaca ektrim, yang merupakan gejala dari perubahan iklim.

"Variabelitasnya semakin tinggi, jadi kami harapkan dengan mengerti itu, mereka (peserta) juga bisa siaga atau bisa mengantisipasinya," jelas Nurhayati.

Untuk itu, diharapkan ilmu yang diperoleh peserta dalam kegiatan SLI ini, dapat diterapkan di lapangan dan kemudian dibagikan kepada para petani di Kalbar.

"Kami ingin melakukan percepatan untuk semacam sosialisasi ini. Dengan pemahaman informasi iklim ini, kami ingin ada tindak konkret dari adaptasi terhadap perubahan iklim. Sehingga peserta dapat menyesuaikan waktu tanamnya dan jenis tanamannya sesuai dengan iklim di daerah, di lokasi masing-masing. Pada akhirnya untuk peningkatan produksi," terangnya.

Dari rata-rata yang sudah pihaknya lakukan sejak tahun 2012, untuk Sekolah Lapang Iklim tahap III (praktek menanam), ada kenaikan 20 sampai 30 persen dari rata-rata hasil di suatu daerah.

"Misalnya di Kalbar ini, misalnya 6 ton perhektare. Dengan SLI kami bisa menaikan menjadi 8 sampai 10 ton perhektare," sambungnya.

Penulis: Tito Ramadhani
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help