Metamorfosis Narkoba Ancam Anak-anak

Misalnya, beredarnya permen dot di Surabaya yang disinyalir mengandung narkoba belum lama ini

Metamorfosis Narkoba Ancam Anak-anak
TRIBUNPONTIANAK/ZULKIFLI
Kapolda dan jajaran saat menunjukan sejumlah barang bukti diduga Narkoba jenis sabu seberat 5,2 Kg di Mapolda Kalbar, Senin (13/3) 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Peredaraan dan penyalahgunaan narkoba di Indonesia saat ini sudah sangat mengkhawatirkan, seiring dengan meningkatnya pengguna narkoba dari semua kalangan dan juga peredaran narkoba.

Data Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan bahwa ada 35 narkoba jenis baru yang masuk ke Indonesia bahkan saat ini beredar di seluruh Indonesia, melalui kartel, pengedar dan kurirnya.

Guna mengelabui aparat keamanan, kartel narkoba memiliki beragam modus dalam mengedarkan narkoba dan terus berinovasi. Sasaran peredaran narkoba tak lagi hanya menyasar remaja dan orang dewasa, namun hingga anak kecil usia dini. Pengedar narkoba semakin pintar mengemas barang dagangannya. Mereka mencari cara bagaimana memasarkan narkoba itu, supaya narkoba itu tidak tampak.

Caranya, dengan mengemas narkoba atau mencampurkan narkoba dalam makanan yang digemari anak-anak kecil. Kalau dulu berbentuk pil, bubuk heroin, atau lintingan ganja, kini menjelma menjadi aneka rupa. Misalnya, beredarnya permen dot di Surabaya yang disinyalir mengandung narkoba belum lama ini. Sebelumnya juga beredar kue kering bercampur ganja di Bandung dan Jakarta.

Dengan mencampurkan narkotika ke dalam makanan, maka akan sulit terdeteksi secara kasat mata. Penyusupan narkoba ke dalam makanan dan jajanan anak tersebut merupakan salah satu bentuk metamorfosis narkoba saat ini yang mesti diwaspadai. Seperti diingatkan oleh Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa saat meresmikan Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) Teratai Khatulistiwa di Kabupaten Kubu Raya, Sabtu (18/3/2017).

IPWL Teratai Khatulistiwa yang diresmikan tersebut nantinya akan memberi pelayanan rehabilitasi sosial kepada pecandu dan korban penyalahgunaan narkoba. Sejumlah metode rehabilitasi disiapkan antara lain, Therapeutic Community, metode religius, terapi alternatif, dan bimbingan tradisional. Daya tampung IPWL mencapai 100 orang klien untuk rawat inap.

Khofifah mengimbau kepada orangtua agar senantiasa mengingatkan anak-anaknya yang masih duduk di bangku TK dan SD untuk tidak jajan sembarangan. Orangtua, harus lebih peduli dan tidak cuek terhadap fenomena metamorfosis narkoba ini. Dipilihnya anak-anak sebagai pengedar narkoba bukan tanpa alasan.

Sindikat narkoba, telah mempelajari secara detil hukuman maksimal bagi pengedar anak - anak di Indonesia, dimana hukuman yang dikenakan hanya setengah dari orang dewasa. Celah hukum inilah yang dimanfaatkan para sindikat narkoba untuk melancarkan aksi mereka. Selain itu, penggunaan anak-anak meminimalisir kecurigaan aparat kepolisian.

Mengutip data yang disampaikan Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial Marjuki, dari jumlah usia produktif di Kalbar sebesar 3.599.100 orang, diperkirakan sebanyak 61.185 orang dengan prevalensi 1,7 persen menyalahgunakan narkoba. Ibarat fenomena gunung es, angkanya bisa jauh melebihi prevalensi tersebut.

Realitas ini, harus menjadi perhatian seluruh pihak. Terlebih Kalbar yang berbatasan dengan Malaysia sangat rawan menjadi jalur penyelundupan narkoba. Narkoba tidak melulu lewat jalur-jalur utama perbatasan, tapi juga jalan tikus atau jalan darat yang sulit di deteksi keberadaanya, yang tersebar di sepanjang perbatasan antara Indonesia dan Malaysia.

Kabar terbaru, jajaran Subdit 1 Direktorat Reserse Narkoba Polda Kalbar bersama petugas Bea dan Cukai Entikong menggagalkan upaya penyelundupan 4 Kg sabu-sabu oleh tiga warga Indonesia yakni Hendratno (46), Irhas Suardiansyah (45) dan Hamdani (34) melalui Pos Lintas Batas Entikong pada Jumat (17/3/2017) sekitar pukul 17.45 WIB.

Dibutuhkan kerjasama seluruh pihak dalam menghadapi kondisi Indonesia yang tengah darurat narkoba ini. Peran keluarga sangat dibutuhkan karena merupakan benteng pertama pencegahan bahaya narkoba. (*)

Penulis: Ahmad Suroso
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help