TribunPontianak/

Peringati Harlah ke-91, PC NU Sintang Gelar Dialog Kebangsaan  

Wakil Bupati Sintang Askiman menyampaikan kondisi kebhinekaan di Kabupaten Sintang sebagai kawasan penerima transmigrasi terbesar di Kalbar.

Peringati Harlah ke-91, PC NU Sintang Gelar Dialog Kebangsaan  
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/RIZKY PRABOWO RAHINO
Wakil Bupati Sintang Askiman memaparkan materi saat dialog kebangsaan yang digelar oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Sintang di Balai Pegodai, Kompleks Rumah Dinas Wakil Bupati Sintang, Sabtu (4/3/2017). Dialog merupakan bagian dari acara peringatan Hari Lahir (Harlah) NU ke-91. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rizky Prabowo Rahino

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Sintang gelar dialog kebangsaan di Balai Pegodai, Kompleks Rumah Dinas Wakil Bupati Sintang, Sabtu (4/3/2017). Dialog merupakan bagian dari acara peringatan Hari Lahir (Harlah) NU ke-91.

Sekitar 200 peserta asal organisasi masyarakat, organisasi pemuda dan mahasiswa mengikuti dialog bertema Menjaga Nilai-Nilai Pluralisme dalam Bingkai Kebhinekaan untuk Memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Turut hadir Wakil Bupati Sintang Askiman, Wasekjen PBNU KH Ir Suadi Damartyas Pranoto dan Ketua PC NU Jember, DR H Abdullah Syamsul Arifin MH.

Wakil Bupati Sintang Askiman menyampaikan kondisi kebhinekaan di Kabupaten Sintang sebagai kawasan penerima transmigrasi terbesar di Kalbar.

Baca: 43 Mahasiswa Magister Untan PPM di Sintang

Hingga kini, kondisi sosial masyarakat multietnis Sintang sangat harmonis dan mampu menghargai satu sama lain. 

Sebagai contoh interaksi sosial masyarakat di desa-desa, seringkali dijumpai masyarakat Jawa bisa berbahasa Dayak dan masyarakat Dayak bisa berbahasa Jawa.  

“Ini harus selalu dipertahankan. Apalah arti perbedaan ras, golongan dan agama jika membawa kita ke jurang kehancuran,” ungkapnya saat pemaparan. 

Sikap saling menghargai, mengasihi dan cintai sesama manusia merupakan kewajiban guna ciptakan kedamaian, kekeluargaan dan persaudaraan. 

"Kalau tidak dikelola dengan baik, kemajemukan akan bjadi ancaman signifikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk itu perlu ditanamkan semangat kebhinnekaan dalam bingkai NKRI," jelasnya. 

Saat ini penghargaan norma-norma kesopanan, norma moral dan norma lainnya disadari mulai merosot. Selain itu, masyarakat diadu untuk tidak saling menghormati satu sama lain melalui media sosial (medsos). Jika ini tidak disikapi dengan baik maka dapat merusak tatanan kehidupan. Terkait hal ini, Wakil Bupati mengingatkan peran media dalam menyajikan informasi. Kredibilitas media sangat penting bagi masyarakat.

"Media harus profesional dan mengarahkan masyarakat agar menghargai pluralitas yang ada di Indonesia. Saya harap dialog ini memperkokoh tali persaudaraan dalam bingkai pluralisme agar cita-cita harmonis dalam etnis, bersama antar agama dan bersatu dalam setiap suku menjadi nyata," tukasnya. 

Ketua Pengurus Cabang NU Kabupaten Sintang, Edi Sunaryo mengatakan dialog menekankan pembahasan pada topik pluralisme. 

“Keberanekaragaman ini harus pandai-pandai kita jaga. Warna-warni budaya akan jadi khasanah yang memperindah kehidupan kita. Semua menginginkan kedamaian," singkatnya.

Penulis: Rizky Prabowo Rahino
Editor: Rizky Zulham
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help