Pemkab Sekadau Fokus Tekan Angka Kematian Ibu dan Bayi

Pada 2016 tercatat sebanyak 4 kasus kematian ibu, dan mencapai 18 kasus kematian bayi.

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Rivaldi Ade Musliadi

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SEKADAU – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Sekadau, terus berupaya menekan angka kasus kematian ibu dan bayi. Kasus kematian ibu dan bayi yang masih terjadi di Kabupaten Sekadau.

Masalah tersebut menjadi satu diantara persoalan dalam bidang kesehatan untuk terus ditekan jumlahnya. Pada 2015, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Sekadau mencatat sebanyak 7 kasus kematian ibu, dan 28 kasus kematian bayi.

Sedangkan, pada 2016 tercatat sebanyak 4 kasus kematian ibu, dan mencapai 18 kasus kematian bayi.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas), Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Sekadau Handayani.

Baca: Kasat Sabhara Polres Sekadau Jadi Khatib Sampaikan Pesan Kamtibmas

Ia bahkan mengatakan, hingga Februari 2017 tercatat dua bayi yang meninggal. Kedua bayi yang meninggal itu berada di Kecamatan Sekadau Hilir dan belum diketahui secara persis penyebab bayi itu meninggal.

“Kami tidak ingin kasus tersebut kembali terjadi. Kami akan berusaha sekuat tenaga menekan agar AKB tahun ini dibawah 10 kasus,” ujarnya, Jumat (3/3/2017).

Ia mengatakan, angka kematian ibu dan bayi menjadi konsen dibanyak daerah. Apalagi, kata dia, banyak kabupaten atau kota yang angka kematian ibu dan bayi didaerahnya masih cukup tinggi, atau berada diambang batas toleransi kelahiran bayi dan persalinan ibu sehat.

Handayani menjelaskan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya angka kematian ibu dan bayi. Diantaranya, kata dia, ibu terlambat mendeteksi penyakit selama masa kandungan, terlalu dekat jarak kelahiran, jauhnya sarana faskes hingga budaya yang masih bergantung dengan pertolongan persalinan non medis.

“Kami bertekad menekan agar tahun ini penurunan angka kematian ibu dan bayi hingga 50 persen. Untuk itu, kami terus melakukan upaya peningkatan kapasitas bidan yang ada di daerah. Selain itu, lebih mengaktifkan posyandu hingga memberikan pemahaman kepada masyarakat, harapannya angka kematian ibu dan bayi bisa diturunkan lebih rendah lagi,” jelasnya.

Apalagi, kata dia, menekan terjadinya kasus keamtian ibu dan bayi memerlukan peran semua lintas sektoral. Di desa, kata dia, sudah ada posyandu yang merupakan cikal bakal untuk menyampaikan hal-hal berkaitan dengan kesehatan kepada masyarakat.

“Masyarakat, mari ke posyandu terutama bagi ibu hamil dan juga balita. Posyandu ini sangat berguna bagi masyarakat,” pungkasnya.

Penulis: Rivaldi Ade Musliadi
Editor: Rizky Zulham
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help