TribunPontianak/

Menyatukan Semangat Jaga Perdamaian di Kalbar

Ema mengatakan LKKNU Pontianak dan FPIP mempunyai niat baik menggelar dialog publik kali ini.........

Menyatukan Semangat Jaga Perdamaian di Kalbar
TRIBUNPONTIANAK/Ridho Panji Pradana
Ketua Prodi Sosiologi Magister Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjung Pura, Syarifah Ema Rahmaniah Al-Mutahar. 

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Ridho Panji Pradana

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Ketua Prodi Sosiologi Magister Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Tanjung Pura, Syarifah Ema Rahmaniah Al-Mutahar mengatakan kegiatan dialog publik yang dilaksanakan Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdatul Ulama (LKKNU) di Aula Pondok Pesantren Darul Faizin Jalan Petani, Danau Sentarum Pontianak merupakan kegiatan yang bagus dan harus dilanjutkan.

"Dialog publik ini bagus, adanya dialog ini menunjukan kepedulian warga masyarakat dan berbagai stake holder dalam hal ini adalah Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdatul Ulama (LKKNU) berkerjasama dengan FPIP dan saya lihat para narasumbernya juga dari berbagai stake holder, pemerintahan ada, legislatif ada, tokoh adat budaya dan kepemudaan," ujarnya, Jumat (27/1/2017).

Namun Ema menyayangkan dalam dialog publik ini ada beberapa perwakilan tokoh adat yang tidak bisa hadir.

"Semoga pertemuan kedepanya semua bisa hadir mewakili berbagai kalangan," imbuhnya.

Ema mengatakan LKKNU Pontianak dan FPIP mempunyai niat baik menggelar dialog publik kali ini.

Menurutnya dengan dialog ini bisa membuat kesepakatan dan menyatukan semangat untuk menjaga perdamaian di Kalbar, karena menurutnya perdamaian adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah.

"Temanya menarik Peran Keluarga Dalam Mengimplementasikan Bhineka Tunggal Ika Dalam Kehidupan Bermasyarakat, karena keluarga mempunyai peran yang penting, pendidikan utama anak-anak itu dari keluarga, baik bapak ibu nenek atau kakeknya, ataupun tetangga dan lingkungan," tuturnya.

Kaprodi Sosiologi Magister Fisip Untan ini mengatakan tema dialog seperti ini baiknya tidak hanya di gelar di Kota Pontianak, namun juga di daerah-daerah lainnya, khususnya di daerah tertentu yang rawan dan berpotensi tindakan intoleransi dan radikaliasasi.

Ema berharap kegiatan seperti ini seharusnya bukan kegiatan pemula atau pertama, namun di lanjutkan lain-lain lagi yang bersifat mikro apalagi bertemakan keluarga harus dilanjutkan bagaimana gerakan ini terus masuk di tatanan sosial.

"Mungkin bisa mengkontruksi seperti pengajian ibu-ibu, pelatihan leadhership kaum muda supaya arahnya berperan menjaga perdamaian di Kalbar," katanya. 

Editor: Mirna Tribun
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help