Australia Minta Maaf, Ini Kata Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu

Kedua negara sama-sama realistis menyadari bahwa mereka adalah negara tetangga dekat

Australia Minta Maaf, Ini Kata Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Ryamizard Ryacudu 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, JAKARTA - Pemerintah menghentikan sementara kerja sama militer antara TNI dan Angkatan Bersenjata Australia (ADF).

Keputusan ini menyusul temuan materi yang dinilai menjelek-jelekkan TNI dan menghina dasar negara Indonesia, Pancasila, di lembaga pendidikan ADF.

Sikap pemerintah jelas dan tegas bahwa hal semacam itu tidak bisa diterima dan langkah penghentian sementara kerja sama militer, menurut Presiden Joko Widodo, merupakan hal prinsip.

Namun, Menteri Pertahanan Australia Marise Payne telah menyampaikan penyesalan atas terjadinya masalah ini dan akan mengutus Panglima Angkatan Darat Australia Angus Campbell menemui Panglima TNI dan KSAD untuk menyampaikan permintaan maaf.

Bahwa Australia sudah meminta maaf, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menyatakan, kita bangsa besar yang tentu bisa memaafkan adanya insiden yang disebabkan (oleh) oknum perseorangan di Australia.

Kita hargai sikap kedua belah pihak, Australia yang bergegas meminta maaf dan sikap pemerintah yang bisa menerima permintaan maaf Australia. Yang penting pesan protes sudah kita sampaikan dan mendapat respons.

Baik Indonesia maupun Australia merupakan bangsa yang di satu sisi memiliki kehormatan diri, sebaliknya pada sisi lain juga dewasa dalam menjunjung kepentingan strategis.

Kedua negara sama-sama realistis menyadari bahwa mereka adalah negara tetangga dekat.

Keduanya punya kesepakatan yang dikemas dalam Pakta Lombok 2006 dan diwujudkan dalam rencana aksi 2012.

Alangkah baiknya jika hubungan yang ada diisi berbagai kerja sama erat, baik dalam bidang pertahanan, penegakan hukum, kontra terorisme, maupun maritim.

Terus hidupnya rencana Presiden Joko Widodo melawat ke Australia akan bagus untuk menguatkan lagi hubungan kedua negara, yang selama ini ditandai dengan kerja sama di berbagai bidang.

Kita juga mendorong hubungan kedua negara tidak hanya ditopang oleh saling kunjung antarpejabat, tetapi juga saling kunjung antarmasyarakat, kalangan media, akademisi, dan kalangan lain.

Wajar jika antara tetangga dekat sekali waktu timbul masalah, seperti Australia-Indonesia. Namun, masalah itu harus diselesaikan agar hubungan kedua tetangga stabil dan dapat diisi secara konstruktif.

Hal ini penting mengingat dewasa ini banyak perkembangan baru di lingkungan strategis yang memerlukan kerja sama erat kedua negara.

Kita garis bawahi keinginan Presiden Indonesia agar ketegangan yang muncul dapat segera diselesaikan dan kedua negara bisa memetik pelajaran dari kasus ini.

Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved