Citizen Reporter

Suhu Bumi Meningkat Akibat Eksploitasi SDA Berlebihan

Diakibatkan meningkatkatnya suhu bumi yang relatif tinggi sebagai konsekuensi dari eksploitasi sumber daya alam berlebihan.

Suhu Bumi Meningkat Akibat Eksploitasi SDA Berlebihan
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/ISTIMEWA
Sekretaris Daerah Kalimantan Barat Dr M Zeet Hamdy Assovie, MTM menyampaikan sambutannya saat membuka acara Semiloka pengelolaan bersama hutan dan kawasan konservasi, perlindungan dan pemberdayaan masyarakat di Provinsi Kalimantan Barat, di hotel Golden Tulip Pontianak, Rabu (30/11/2016). 
Citizen Reporter
Ruslan
Humas Pemprov Kalbar

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Masyarakat dunia dewasa ini dibayang-bayangi dengan kekhawatiran akan terjadinya akselerasi penurunan kualitas ekosistem, kerusakan alam, hilangnya plasma nutfah, kepunahan flora dan fauna serta perubahan iklim negatif.

Diakibatkan meningkatkatnya suhu bumi yang relatif tinggi sebagai konsekuensi dari eksploitasi sumber daya alam berlebihan.

Guna mengatasi hal kondisi yang dapat mempercepat kehancuran semua sistem kehidupan tersebut, maka dilaunching barbagai program, skema dan gerakan yang berkaitan dengan upaya penurunan suhu bumi, seperti program penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) dan reducing emission from deforestation and forest degradation atau REDD (pengurangan dari deforestasi dan degradasi hutan).

Baca: M Zeet: Kalbar Butuh Kajian Mengenai Transmigrasi dan Permasalahan Perkebunan

"Inti dari kedua program tersebut, adalah merubah pola hidup pada tataran mikro, dan paradikma pembangunan pada skala makro, yakni meningkatkan ekonomi dengan tetap menjaga kelestarian lingkungan, yang populer dengan sebutan pembangunan berkelanjutan," kata Sekretaris Daerah Kalimantan Barat Dr. M. Zeet Hamdy Assovie, MTM dalam sambutannya saat membuka Kegiatan Semiloka pengelolaan bersama hutan dan kawasan konservasi, perlindungan dan pemberdayaan masyarakat di Provinsi Kalimantan Barat yang digelar oleh Dinas Kehutanan Provinsi Kalbar, di Hotel Golden Tulip Pontianak, Rabu (30/11/2016).

Dalam rangka mewujudkan program penurunan emisi GRK tersebut, M. Zeet mengatakan bahwa masyarakat Internasional melalui lembaga-lembaga donor telah menyediakan dana untuk memfasilitasi para pelaku lingkungan, baik pemerintah, swasta dan khususnya para NGO/LSM luar dan dalam negeri untuk mengimplementasikan berbagai kegiatan di berbagai sektor khususnya sektor kehutanan dan lingkungan hidup.

Untuk wilayah Kalimanta Barat, menurut Sekda, para mitra NGO/LSM yang telah beraktivitas diperkirakan terdapat lebih dari 50 lembaga, dan jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat mengingat makin banyaknya fokus-fokus masalah yang telah teridentifikasi seperti masalah tenurial, ekosistem gambut, kawasan ekosistem esensial, pembangunan berbasis landscape, hutan kemasyarakatan jasa lingkungan dan lain-lain.

Ditambahkan Sekda, pemerintah sangat gembira dengan banyaknya dukungan dan minat para pihak untuk membangun Kalbar melalui upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan hidup, agar implementasi berbagai kegiatan itu dapat berjalan dengan baik, terarah, efektif dan efisien.

Untuk itu dia berharap perlu dibangun komunikasi yang intensif dan koordinasi yang optimal diantara semua pemangku kepentingan, baik pihak Pemerintah, Perguruan Tinggi, Swasta, LSM, maupun tokoh adat, dan lembaga lain yang terhimpun dalam satu wadah dimana tugas dan fungsinya dapat didiskusikan sebelumnya.

Ikuti kami di
Penulis: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano
Editor: Rizky Zulham
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2016
About Us
Help