• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 22 Oktober 2014
Tribun Pontianak

Anak di Bawah Umur Dilarang Mengemudi, Ini Alasannya

Senin, 9 September 2013 09:40 WIB
Anak di Bawah Umur Dilarang Mengemudi, Ini Alasannya
Warta Kota/Alex Suban
Warga berusaha mengevakuasi korban kecelakaan maut yang terjadi di Jalan Tol Jagorawi, Jakarta Timur, tepatnya di jalur Jakarta ke Bogor, KM 8-200, Minggu (8/9/2013) dini hari sekitar pukul 00.45 WIB. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan putra bungsu Ahmad Dhani dan Maia Estianty, Abdul Qodir Jaelani alias Dul (13), Minggu (8/9/2013) dini hari, bisa jadi pelajaran berharga bagi para orang tua.

Anak di bawah umur memang sepatutnya jangan diserahi tanggung jawab untuk mengemudikan kendaraan. Banyak faktor yang menjadi pertimbangan orang tua dilarang memberi izin mengemudi kepada buah hati. Berikut penuturan Bintarto dari Indonesia Defensive Driving Centre.

1. Peraturan. "Pihak Kepolisian sudah menetapkan bahwa Surat Izin Mengemudi (SIM) baru bisa diberikan untuk usia 17 tahun ke atas. Dari sini saja sudah jelas bahwa Dul melanggar peraturan, karena belum cukup umur untuk berada di balik kemudi," terang Bintarto.

2. Mental. Usia di bawah 17 tahun cenderung belum memiliki kemampuan yang cukup untuk membaca gelagat kondisi jalan raya, kepekaan terhadap lingkungan sekitar dan minimnya pengalaman serta pengetahuan. Jika dirasa anak sudah terampil, untuk berinteraksi di jalan raya harus terlebih dahulu didampingi untuk mengasah kepekaan. Atau jika memang punya keahlian khusus, arena balap bisa jadi tempat yang cocok untuk menempa mental dan keahlian.

3. Labil. Ragu dalam mengambil sikap dan keputusan kerap terjadi pada remaja dan membahayakan ketika berada di balik kemudi. Bisa jadi keputusan diambil di saat sudah terlambat sehingga mengakibatkan kecelakaan. Lebih parah, mudah terprovokasi oleh teman atau kendaraan sekitar. "Dipanasin sedikit sama teman di sebelah, gas langsung dibejek, padahal kemampuan masih kurang. Mudah terpancing oleh pengemudi lain yang menyusul, atau memotong lajur, " papar Bintarto.

4. Merasa lebih. Merasa dirinya sudah piawai sehingga mengesampingkan hal-hal yang bisa memecah konsentrasi saat mengemudi. Antara lain sambil menelpon, mengirim pesan atau bersenda gurau dengan teman di sebelahnya. Cenderung menganggap enteng setiap kondisi dibanding mewaspadainya.

Editor: Arief
Sumber: Kompas.com
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
184984 articles 10 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas