Sabtu, 29 November 2014
Tribun Pontianak

Kisah Yuli Dirikan Polteq Equator

Minggu, 2 Juni 2013 13:26 WIB

Kisah Yuli Dirikan Polteq Equator
TRIBUN PONTIANAK/LEO PRIMA
Juliana Sujadi di depan Polteq
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Berlatar belakang dari keperihatinan terhadap kondisi pendidikan di Indonesia, mendorong Dra Juliana Sujadi MEd untuk mendirikan sebuah perguruan tinggi swasta di Kota Pontianak ini. Tepatnya, 9 Juni 2002, dengan kegigihannya yang tinggi ia membangun sebuah perguruan tinggi swasta, yang diberi nama Polytechnic of Tonggak Equator (Polteq). 

Untuk bisa mendirikan perguruan tinggi ini, Yuli, panggilannya, harus berjuang keras selama sebelas tahun. "Saya bisa mendirikan Polteq ini dengan uang yang dikumpulkan dari hasil berdagang selama 11 tahun," ungkapnya, ketika ditemui Tribun, di Gedung Baru Polteq, Jalan Nurali, Jumat (31/5/2013).

Baginya, tidak mudah untuk membesarkan Polteq hingga sekarang ini. Banyak ujian berat yang telah dilaluinya. Selama sepuluh tahun mereka masih menumpang di persekolahan Suster untuk proses belajar mengajar. Karena mereka masih belum memiliki gedung perkuliahan saat itu.

Awal perguruan tinggi ini berdiri, masih banyak yang menganggap remeh akan kualitas sistem pengajarannya. "Setiap kali kami promosi kemana-mana, orang-orang meremehkan kami. Karena pemahaman dan pengetahuan mereka tentang politeknik yang masih sangat terbatas. Orang-orang hanya mengenal universitas, sekolah tinggi, dan akademi," ujarnya.

Ujian paling berat baginya, yaitu pada 2003, jumlah mahasiswa yang mendaftar turun secara drastis. Hanya tercatat 43 orang, lebih sedikit dibandingkan jumlah mahasiswa di tahun pertama yang mencapai 72 mahasiswa. Hal itu membuatnya cukup sedih. "Pernah kami dalam satu kelas hanya 12 orang. Bahkan pernah hanya 3 orang dalam satu kelas, tambahnya.

Ujian sesungguhnya baginya, apakah tetap bertahan atau membuat keputusan lain. Keadaan saat itu membuat para karyawannya harus rela gajinya turun. Biaya operasional ditekan seefektif mungkin. Menurutnya, benar-benar titik nadir yang menguji loyalitas tim kerja membangun Polteq.

Masa-masa sulit yang dialaminya itu, tak lantas membuat dirinya patah semangat. Ia punya strategi khusus untuk menggaet mahasiswa baru. Ia sering keluar masuk kampung mencari anak-anak tamatan SMA yang ingin kuliah. Tidak peduli apakah mereka memiliki uang atau tidak. Terpenting baginya, anak-anak itu mempunyai semangat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. 

"Saya mendirikan lembaga pendidikan bukan untuk profit, tapi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu banyak anak-anak yang tidak mampu dapat kuliah di sini," tegasnya.

Berkat perjuangannya yang keras dan semangatnya yang tak pernah luntur untuk membesarkan Polteq, alhasil masa-masa sulit itu dapat teratasi. Jumlah mahasiswa yang mendaftarkan diri ke Polteq semakin bertambah setiap tahunnya. Meskipun semakin banyak peminatnya, tapi mereka tidak serta merta menerima begitu saja.

Calon mahasiswa yang ingin kuliah di Polteq harus melewati beberapa tahapan. Di antaranya tahapan wawancara. "Tahapan ini sangat menentukan apakah mereka layak atau tidak kuliah di perguruan tinggi kami. Hanya mereka yang berkemauan tinggi dapat kuliah di sini," ujarnya.

Mereka yang tidak mampu, tapi memiliki akademis secara rata-rata atau di atas rata-rata, dan memiliki kemauan yang tinggi melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, akan diberikan kesempatan kuliah di Polteq. "Dua puluh persen dari jumlah mahasiswa yang ada akan diberikan beasiswa. Tentunya mereka akan diberikan beasiswa dari yayasan, Dikti dan donatur," terangnya.

Lewat perguruan tinggi yang dibangunnya ini, secara perlahan dirinya mulai memperbaiki sistem pendidikan yang ada. "Pengajaran kami lebih menekankan pada banyak praktek dibandingkan teori. Jadi 60 persen praktek dan 40 persen teori. Dengan bekal banyak praktek membuat mereka tidak bingung setelah lulus nanti. Mereka akan siap pakai dan jauh lebih mandiri," ucapnya.

Selain sistem pendidikan yang diperbaiki, ia mengatakan sangat penting menjaga kualitas pendidikan. Yaitu membatasi jumlah mahasiswa dalam satu kelas. "Sekarang  dalam satu kelas hanya bisa untuk 24-28 mahasiswa. Tidak boleh lebih. Pada dasarnya kami bukan sekadar mendidik akademis saja, tapi budi pekerti, mental, dan pembinaan yang baik. Sehingga pembatasan itu akan membuat lebih efektif, intensif dan pembinaan jauh lebih mudah," ucapnya.
Pembinaan wirausaha yang dilakukan merupakan bagian sistem diterapkan. "Kami di sini ada 

Lembaga Politeknik Entrepreneur Center. Lembaga ini akan membina para mahasiswa menjadi pribadi wirausaha yang dapat menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang banyak," pungkasnya.

Tamatan alumni mahasiswa Polteq menurutnya dididik untuk menjadi pribadi yang mandiri dan dapat berwirausaha sendiri. "Kami tidak mengajarkan mereka kalau tamat nanti harus jadi PNS atau karyawan di suatu perusahaan. Tapi mendorong mereka untuk lebih mandiri, berwirausaha sendiri menciptakan lapangan pekerjaan," tuturnya.

Perkembangan Polteq yang semakin berkembang pada saat ini merupakan bayaran yang pantas untuk perjuangan gigihnya. Masa-masa sulit yang dilaluinya menjadi saksi perjuangannya dalam membesarkan nama Polteq. 

Buat Buku Biografi
Sudah sebulan lebih proses pembuatan buku biografi sang founder Polytechnic of Tonggak Equator (Polteq) ini digarap. Alasannya membuat biografi tentang perjalanan kisah hidupnya, dikarenakan motivasi dari orang-orang sekitarnya.

"Banyak teman-teman saya yang memotivasi untuk membuat sebuah buku tentang biografi saya. Mereka bilang perjalanan hidup saya begitu amazing dan menarik untuk dijadikan sebuah cerita dalam buku," ujarnya.

Bagian isi dari buku itu menceritakan bagaimana ia dulu harus kuliah sambil bekerja, sehingga sukses pada pencapaian kariernya sekarang ini. Kepada Tribun, ia menguraikan sedikit tentang kisah hidupnya yang dibiografikannya itu.

Juliana memulai ceritanya dari ketika ekonomi keluarganya yang carut marut saat sang ayah jatuh bangkrut. Dirinya yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama harus berjuang keras membantu kedua orangtuanya. Seperti menemani ibunya berjualan terasi dan minyak kelapa di pasar.

Dengan biaya bantuan dari kakaknya, ia bisa menyelesaikan SMA-nya. Setelah tamat ia melanjutkan sekolahnya ke jenjang lebih tinggi, dengan mengambil Jurusan Bahasa Inggris di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Tanjungpura .

Saat itu sambil kuliah ia juga bekerja. Ia bekerja sebagai cleaning service di SMP Suster Pontianak selama tiga tahun. "Keadaan finansial kami sangat lemah. Jadi saya harus bekerja untuk membantu orangtua dan biaya kuliah," ujarnya.

Selain menjadi cleaning service, ia juga kerap disuruh mengantarkan surat-surat dan laporan ke dinas P&K dengan menggunakan sepeda. Juliana adalah salah satu mahasiswi berprestasi. Prestasinya di bidang olahraga membuatnya dengan mudah mendapatkan beasiswa. "Di masa itu, orang Tionghoa yang pertama kali mendapatkan beasiswa adalah saya," tuturnya.

Karena ingin kuliah lagi di Sanata Dharma, Yogyakarta mengambil jurusan yang sama, ia pun mengumpulkan uang untuk bisa kuliah di sana dengan cara mengajar les bahasa Inggris. "Setiap sore saya mengajar les di SMP Suster. Ruangan yang dipakai tidak dikenai biaya. Selama dua tahun dan uang dua juta rupiah, saya berangkat kuliah di Yogya," tuturnya.

Karena keterbatasan uang, saat kuliah di Yogya dirinya tinggal di Asrama Syantikara (dikelola suster-suster CB). Di sana ia bisa mendapatkan makanan dan uang sewa rumah murah. "Saya targetkan dua tahun harus selesai. Kalau tidak saya tidak punya uang lagi," pungkasnya.

Untuk menghemat biaya, ia jalan kaki dari asrama ke kampus yang jaraknya sekitar 4 km. "Pas waktu liburan, saya tidak bisa pulang. Karena tidak punya uang. Saat mendengar kabar ayah saya stroke pun, saya juga tidak bisa pulang," ucapnya.

Selama dua kali wisuda, ia belum pernah merasakan memakai toga. Yang pertama saat di Untan, ia mengatakan ketika masa itu memang belum ada yang namanya proses wisuda. Dan saat wisuda keduanya, ia tidak memiliki uang untuk menunggu lebih lama di sana. Uangnya terbatas jadi mau tidak mau harus segera pulang dan tidak bisa mengikuti prosesi wisuda. "Jadi boleh dibilang saya dua kali belum pernah mengalami wisuda gelar kesarjanaan S1 saya," tambahnya.

Itulah bagian cerita hidupnya yang sangat menarik untuk dikisahkan. Perjalanan hidupnya yang begitu keras menjadikannya seorang wanita yang tangguh. "Apa yang saya alami membuat saya kuat," imbuhnya.

Di dalam buku biografinya nanti, kisah hidupnya lebih lengkap dan menarik untuk dibaca. Karena sangat inspritatif, yakni memberikan semangat kepada orang banyak bahwa keterbatasan finansial tidak menghalangi seseorang untuk mencapai impiannya. Selama kita memiliki tekat dan usaha yang kuat maka semuanya dapat dicapai. (mir/tribun pontianak cetak)

Biofile:
Nama lengkap: Juliana Sujadi
Panggilan: Yuli
Kelahiran: Pontianak, 9 Juni 1957
Hobi: Olahraga
Pendidikan:
* SDN 27 Pontianak
* SMP Persatuan Guru Khatolik (PGK) Pontianak
* SMA Santo Paulus Pontianak
* Sarjana Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Untan Pontianak
* Sarjana Jurusan Bahasa Inggris IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta
* Master Jurusan Bahasa Inggris di The University of The Philippines
Penulis: Mirna
Editor: Arief

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas