• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 26 Oktober 2014
Tribun Pontianak

Reformasi AD di Tangan Moeldoko

Rabu, 22 Mei 2013 20:50 WIB
Reformasi AD di Tangan Moeldoko
Penkostrad
Letjen TNI Moeldoko bersalaman (kanan)
PADA 2010 lalu warga Kalbar cukup akrab dengan sosok Letnan Jenderal Moeldoko. Saat itu ia menjabat sebagai Panglima Komando Daerah Militer atau Pangdam XII/Tanjungpura dengan tanda dua bintang di pundaknya atau berpangkat Mayor Jenderal. Moeldoko menyempatkan diri wara-wiri bersilaturahmi ke sejumlah tokoh di Kalbar termasuk ke media. Ia tercatat pernah mengunjungi Ketapang sehari sebelum pelantikan bupati. Moeldoko mengumpulkan tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan tokoh agama untuk bersilaturahmi. Tak lupa pria yang tegas namun bersahaja itu menyampaikan pentingnya untuk menjaga kebersamaan dan keamanan.

Moeldoko juga mengunjungi Tribun Pontianak untuk bersilaturahmi saat akan pindahtugas sebagai Pangdam Siliwangi di Bandung. Ia ngobrol akrab dengan awak redaksi termasuk dengan Pemred saat itu Albert GJ Joko. Albert tak segan mendoakan agar kelak Moeldoko diserahi tugas lebih besar lagi yaitu sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).

Kini, Moeldoko benar-benar dipilih sebagai KSAD oleh Presiden SBY. Di pundaknya banyak pekerjaan rumah yang harus dituntaskan, termasuk mereformasi TNI AD.

Saat ditanyakan program apa saja yang akan dijalankan setelah dilantik nanti, ia menegaskan pada prinsipnya mempertahankan program-program baik yang ada untuk ditingkatkan kualifikasinya. Di antara program tersebut adalah memelihara, menjaga, dan meningkatkan program-program KSAD yang saat ini telah berjalan, agar terjadi kesinambungan yang tidak pernah putus.

Di antara pesan SBY adalah kepada KSAD baru agar TNI AD tumbuh jadi tentara profesional, kapabel, dan kian dekat dengan rakyat. Setidaknya ada tujuh arahan kepada KSAD baru. Yaitu, mulai kepemimpinan TNI yang dekat rakyat hingga sikap netral TNI dan tak berpolitik praktis saat Pemilu 2014 mendatang.

Penunjukkan Moeldoko ini mendapat sambutan positif parlemen. Komisi I DPR senang, apalagi Moeldoko dinilai tak memiliki resistensi dan catatan kelam apapun. Wakil Ketua Komisi I DPR Ramadhan Pohan, berpendapat, sebagai Wakil KSAD, Letjen Moeldoko tinggal melanjutkan saja. Komisi I tak ada masalah dengan Moeldoko.

Anggota Fraksi Partai Golkar DPR Marsdya (Purn) Basri Sidehabi menilai pilihan Presiden SBY tidak keliru. Jenjang karir militer perwira tinggi TNI AD ini, bahkan lebih baik dibanding Jenderal Pramono Edhie yang dia gantikan.

Sambutan postif juga disampaikan para tokoh di Kalbar. Pangdam XII/Tanjungpura Mayjen TNI Ridwan mengaku bangga atas terpilihnya Letnan Jenderal Moeldoko sebagai KSAD menggantikan Jenderal TNI Pramono Edhi Wibowo.
Ia mengenal Moeldoko sebagai seorang sosok Jenderal yang senang dengan petani. Termasuk pelopor Pesta Petani Muda Indonesia (Pestani) yang memiliki konsen kepada pengembangan petani. Ia berharap suatu saat KSAD dapat berkunjung kembali ke Kalbar terutama ke perbatasan.

Wakil Gubernur Kalbar Christiandy Sanjaya juga pernah memiliki pengalaman bersama Moeldoko saat Kodam kembali terbentuk di Kalbar. Meskipun cukup singkat menjadi Pangdam pertama yaitu sekitar enam bulan namun sejumlah kegiatan relatif berjalan lancar. Wagub memiliki kesan Moeldoko brilian dan komunikatif, mampu membangun komunikasi dengan siapapun.

Tokoh Melayu Chairil Effendy yang juga mantan Rektor Untan memiliki pengalaman pribadi dengan Moledoko. Saat menjabat rektor pihaknya bekerjasama mengadakan kegiatan Pestani atau Pesta Petani.
Chairil dan sejumlah tokoh beberapa kali diundang untuk berdiskusi dan berkomunikasi. Chairil menilai Moeldoko merupakan sosok pemimpin yang familiar, bersahaja dan cerdas.

Bagi tokoh Tokoh Dayak Yakobus Kumis melihat Moeldoko memiliki jiwa kepemimpinan yang mumpuni dan memadai, namun ramah sekaligus tegas. Setelah dipilih sebagai KSAD Yakobus berharap Moeldoko dapat memberikan perhatian pada wilayah perbatasan. Termasuk memprioritaskan keamanan perbatasan, pencegahan illegal logging, trafficking, peredaran narkoba, dan penyelundupan.

Anggota DPR RI Lim Sui Kiang berharap ada peran KSAD dalam pembangunan infrastruktur Jalan Paralel Kalimantan. Apalagi proses pembangunan jalan tentu banyak melewati prosedural kementerian, termasuk Kementerian Pertahanan.
Moeldoko adalah lulusan terbaik Akademi Militer (Akmil) 1981. Selesai menjalani pendidikan di akademi, Moeldoko menduduki jabatan yang cukup strategis seperti Wadan Yonif 202/Tajimalela, Danyonif 201/Jaya Yudha, Dandim 0501 BS/Jakarta Pusat, Sespri Wakasad, hingga Pabandya-3 Ops PB-IV/Sopsad.

Karier pria kelahiran Kediri, Jawa Timur pada 8 Juli 1957 makin bersinar saat dirinya diserahi tanggungjawab sebagai Panglima Divisi I Kostrad (Pangdivif-1 Kostrad). Tak lama setelah itu ia dipindahtugaskan sebagai Pangdam pertama Kodam Tanjungpura pada 2010. Kodam Tanjungpura membawahi Provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Dua wilayah ini memiliki problematika yang juga khusus. Kalbar misalnya adalah wilayah yang berbatasan darat langsung dengan negara jiran, Malaysia. Letak yang sangat strategis ini tentu saja membutuhkan pemikiran serta langkah-langkah yang strategis pula karena menyangkut kedaulatan suatu negara.

Sukses di Kalbar, pada Desember 2010 ia ditugasi untuk memimpin Kodam Siliwangi menggantikan Pramono Edhie Wibowo yang diangkat menjadi Pangkostrad. Pada 2011 Moeldoko menjabat sebagai Wakil Gubernur Lemhannas kemudian dipercaya menjadi Wakil KSAD.

Kini, setelah diberi kepercayaan tentu saja harapan masyarakat Indonesia agar Moeldoko bisa menjalankan tugas dengan baik. Tak kalah pentingnya mereformasi tubuh TNI AD, sehingga tak kita dengar lagi ada pelanggaran HAM atau tak ada lagi bentrokan antaroknum aparat. *
Penulis: Stefanus Akim
Editor: Stefanus Akim
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
121353 articles 10 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas