Style Blitz

Sri Heryanti Mengajar dengan Rasa Ikhlas

"Untuk faktor penyebab, sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Autis bukanlah kelainan mental,

Tayang:
Penulis: Rizky Zulham | Editor: Jamadin
TAK semua orang mampu mengajar anak berkebutuhan khusus atau autis. Selain sabar, kunci utama untuk mengajar anak autis harus ikhlas. Sebab, mengajar anak autis butuh kepekaan, kemampuan lebih dan tenaga yang lebih besar dibanding anak normal.

Beberapa pengajar dan terapis anak autis di Yayasan Dua Cahaya Khatulistiwa, di Jl Irian No 2A Kecamatan Pontianak Selatan, tampak begitu sumringah. Tanpa menghiraukan banyak peluh  keluar dari kening, mereka semangat memandu dan memeragakan gerakan kepada para anak autis di ruang bermain (sensory integrasi).

Ketua Yayasan Dua Cahaya Khatulistiwa, Ir Sri Heryanti mengatakan, yayasan ini berdiri sejak 2010. Awalnya didirikan dengan semangat untuk membuat wadah bagi anak berkebutuhan khusus agar mendapat kesempatan yang sama dengan anak lainnya untuk memperoleh pendidikan dan ketrampilan.

"Untuk faktor penyebab, sampai saat ini belum diketahui secara pasti. Autis bukanlah kelainan mental, tidak ada faktor psikilogis pada perkembangan anak yang merupakan penyebab autisme," tutur Ir Sri Heryanti.

Dikatakannya, program wajib belajar adalah hak bagi semua anak indonesia  tanpa memandang status dan lainnya. "Untuk murid di sekolahnya saat ini  berjumlah 96 siswa. Terdiri dari tingkat  TK, SD, SMP dan SMK," ungkapnya.

Dalam kegiatan belajar mengajar, lanjutnya, dibimibing oleh tenaga guru yang pendidikan  S1, D2 dan  SMA dengan ruang kelas full ac dan sarana wifi.

"Walaupun masih banyak kekurangan tetapi kami  dengan dukungan guru serta orang tua murid tetap maju terus demi masa depan anak-anak kami," lanjutnya.

Beasiswa

Dalam kegiatan sekolah, pihaknya juga memberikan beasiswa bagi anak dari keluarga yang kurang  mampu. Untuk kegiatan belajarnya dilakukan pada Senin hingga Jumat, mulai pukul 07.30 sampai 12.00 WIB.

"Di sekolah yang kami kelola ini, kami  mencoba memberikan solusi bagi anak-anak dan orang tua dimana pendidikan adalah untuk semua anak. Yang tentunya sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan serta kondisi anak. Anak-anak didik diharapkan bisa menjadi anak yang mandiri, kreatif, sadar akan lingkungan sekitarnya," paparnya.

Sekretaris Yayasan Dua Cahaya Khatulistiwa Gusti Nuzulhan menambahkan untuk terapi, saat ini terdiri dari 5 jenis. Yaitu terapi wicara, terapi okupasi, terapi sensori integrasi, terapi perilaku, dan fisio terapi. "Untuk waktu terapi di lakukan dengan sistem 1 siswa dibimbing 1 terapis dengan jumlah murid 45 siswa," paparnya.

Seperti halnya pada sekolah, pihaknya juga memberikan diskon khusus bagi anak dari keluarga yang kurang mampu. "Harapan kami ke depan, bahwa jumlah sekolah dan pusat terapi bagi anak berkebutuhan khusus semakin banyak jumlah nya di Pontianak," tuturnya.

Sehingga semakin banyak lagi anak berkebutuhan khusus yang dapat memperoleh pendidikan karena sampai saat ini masih ada yang belum merasakan indahnya pendidikan dan mendapatkan pendidikan yang tepat sesuai usia serta kondisi kebutuhannya," harapnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved