Style Blitz

Perhatian Lewat Kontak Mata

Jadi, tugas utama dalam mendidik anak-anak ini adalah mendapat perhatian dari si anak.

Tayang:
Penulis: Rizky Zulham | Editor: Jamadin
LARUT dalam keasyikan serta kurangnya tingkat kepedulian menjadikannya sebagai orang yang tergolong autis. Kesulitan tersebut, pada intinya lantaran lemahnya seorang penyandang autis dalam emyerap informasi, menjalin komunikasi dan berinteraksi dengan keadaan sekitar.

Menurut Psikolog Anak Sekolah Khusus Cahaya Bangsa, IsyatuL Mardiyati, kesulitan yang kerap dialaminya adalah pada saat pemberian instruksi, informasi dan pelajaran.

"Sulitnya kalau dia tidak kontak dengan kita," ungkapnya.

"Jadi tugas utama dalam mendidik anak-anak ini adalah mendapat perhatian dari si anak. Yang pertama harus kontak pada mata, apakah bisa dia melihat kita. Harus ada kontak mata dan fokus ke kita. Dan nyambung apa yang kita perintahkan. Masalahnya kebanyakan di komunikasi," lanjutnya.

Dijelaskan, untuk rentang waktu dalam tahap pendekatan terhadap anak tersebut tidak bisa ditentukan. "Semuanya tergantung seberapa besar tingkat kecerdasannya dan bagaimana kita menarik perhatian mereka. Jadi tidak gmapang untuk membuat anak suka sama kita. Malahan ada anak yang mau berhenti ketika gurunya diganti," paparnya.

Nah, demi merebut perhatian si anak tersebut, dikatakan bisa dengan bujukan, mengenali karakter anak dan guru juga harus lebih tegas. "Selain itu, masalahnya karena anak-anak ini masalahnya ada pada emosi. Keadaan emosi mereka tidak stabil, apalagi saat kondisi kesehatannya menurun dan sangat mempengaruhi. Orang asing juga bisa memepengaruhi karena membuat dia merasa tidak nyaman," jelasnya.

Diungkapkan, ketika orang normal asik dengan kesibukan diri sendiri biasanya sering disebut autis. "Begitu juga dengan anak- anak ini. Mereka punya dunia sendiri, padahal itu yang menyebabkan dia mengalami masalah dengan kontak sosial terhadap oranglain," lanjutnya.

Disamping itu, menurutnya anak tersbut juga mempunyai kelebihan. Hal tersebut dapat dilihat dari kemampuan menguasai bahasa.

"Semakin banyak kemampuan dalam menguasai bahasa, akan semakin tinggi tingkat kepintarannya," terangnya.

Dikatakan, anak-anak ini memiliki kecerdasan sama dengan anak lain hanya saja anak ini lebih kepada keterbelakangan mental. Yang dibagi tiga kategori yakni ringan, sedang dan berat.

"Harapan kita agar masyarakat tidak memandang autis ini sebagai sesuatu yang lain, menyisihkan dan mendiskriminasi. Mereka ini punya bakat dan kemapuan sama halnya dengan anak yang lain," harapnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved