Borneo Rebellion Rayakan Hari Bumi

Sebagai komunitas pemusik bergenre reggae, tentu acara mayor kita adalah konser musik reggae.

Tayang:
Penulis: Stefanus Akim | Editor: Jamadin
Citizen Reporter
Nano L Basuki | Sastrawan Pontianak

KOMUNITAS Borneo Rebellion merayakan hari bumi di Taman Gitananda dan sepanjang jalan A. Yani Pontianak, Minggu 21 April 2013, pagi.

"Sebagai komunitas pemusik bergenre reggae, tentu acara mayor kita adalah konser musik reggae. Namun, kami juga menggandeng beberapa lembaga dan para seniman menyatukan hati untuk bumi," jelas Danu, konseptor acara ini.

Ia menambahkan bahwa kegiatan dimulai di Taman Gitananda pukul 05.00 WIB dengan acara pembacaan puisi tentang alam.  Lalu dilanjutkan perarakan seni (happening art) menuju jalan A. Yani. Di tempat tersebut, para musisi reggae ini membagikan bibit tanaman dan melakukan simbolisasi penanaman pohon.

"Kantor Kementerian Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat mendukung kegiatan hari bumi ini. Kami dibantu 250 batang bibit pohon yang sebagian kami tanam dan sisanya kami bagi-bagikan kepada masyarakat yang lewat jalan A. Yani pada pagi hari ini. Kami merasa tersanjung, semoga kerjasama yang baik dengan kantor kementerian kehutanan akan terus terjalin, " ujar Cahyo Citro, sang gitaris.

Menurutnya, acara ini menjadi menarik bukan hanya karena musik reggae yang kami pentaskan, namun juga karena niat baik mereka pada bumi disambut dengan hangat oleh
Komunitas Sarang Semut, SPOK, Mata Borneo, Mapala, Sispala, WWF, dan Kantor Kementerian Kehutanan.

Di tempat berbeda, Abdi menambahkan bahwa perayaan hari bumi ini merupakan bagian dari acara EXODUS yang akan kami helat bulan November mendatang. "Ada beberapa rentetan perayaan menuju EXODUS. Kami menyebutnya ROAD TO EXODUS. Antara lain hari bumi, hari buruh, hari musik sedunia, hari keadilan, dan hari kemerdekaan Indonesia, kata Abdi.

Menyambung pernyataan Abdi, Okky, pemain perkusi, mengatakan bahwa acara EXODUS merupakan agenda tahunan Borneo Rebellion. EXODUS merupakan ungkapan pemberontakan kami terhadap ketidakpedulian, egoisme, penjajahan, dan keserakahan. Baik terhadap alam, sesama, maupun pada bangsa tercinta ini.

Mamas Nugroho Susanto, ketua Komunitas Sarang Semut mengajak masyarakat kota Pontianak yang belum sempat bergabung pada Minggu pagi ini untuk bersinergi bersama dengan cara hadir dan saksikan pementasan musik dan puisi pada malam hari ini pukul 19.00 WIB di taman Gitananda, jalan Sutoyo Pontianak. "Mari, kita satukan hati dan berikan pada bumi ini," imbuhnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved