Jumat, 28 November 2014
Tribun Pontianak

Sempat Menangis Belajar Bahasa Inggris

Minggu, 31 Maret 2013 11:36 WIB

Sempat Menangis Belajar Bahasa Inggris
TRIBUN PONTIANAK/LEO PRIMA
Eka Desy Adhya Pertiwi, Learning Centre Manager ELTI Gramedia Pontianak
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Dalam dunia modern yang penuh tantangan dan persaingan yang super ketat ini, setiap orang tidak hanya disarankan memiliki tingkat pendidikan tinggi. Dituntut pula keterampilan khusus, yang lazim disebut skill, yang satu di antaranya adalah bahasa Inggris.

Bahasa Inggris merupakan bahasa global dan alat komunikasi yang krusial. Dan suka atau tidak suka, saat ini bahasa Inggris sudah sangat menguasai seluruh aspek dalam hal komunikasi. Mereka yang ingin selangkah lebih maju dari orang pada umumnya, perlu, dan bahkan harus menguasai bahasa Inggris.

Eka Desy Adhya Pertiwi, Learning Centre Manager ELTI Gramedia Pontianak, menjelaskan meskipun bahasa Inggris di negara kita adalah bahasa kedua, akan tetapi kita tidak boleh menyepelekannya.

"Jika ingin maju dan lebih dari yang lain, maka kuasailah bahasa Inggris. Saya pribadi merasakan sendiri manfaatnya. Saya jauh lebih mudah mendapatkan pekerjaan di manapun. Yakni saya pernah bekerja selama 10 tahun sebagai dosen tetap di Universitas Teknologi Yogyakarta dan dosen tidak tetap di Universitas Atmajaya Yogyakarta. Sempat bekerja juga sebagai PR and accounting di Perusahaan Furukawa Sumitomo, dan asisten FO Manager di Hotel Kapuas Palace. Masih banyak lagi pengalaman kerja saya yang lainnya," ungkap Eka, kepada Tribun, saat ditemui di ruangannya beberapa hari yang lalu.

Pada dasarnya, bahasa Inggris menurutnya, memperkaya pengetahuan setiap orang. Karena literatur atau sumber yang ada kebanyakan berbahasa Inggris. Menurutnya, tak pernah ada kata terlambat untuk belajar.

Ia bercerita, sejak usianya 6 tahun, dirinya sudah memulai belajar bahasa Inggris. "Awalnya saya kesal dan menangis, enggak bisa-bisa menguasainya. Ketika itu, orangtua saya kursuskan di suatu lembaga. Bagi saya itu, adalah tantangan yang harus dihadapi. Sayapun tekun dan rajin belajar bahasa Inggris setiap harinya. Akhirnya, saya bisa melakukannya. Itu semua karena niat dan motivasi saya yang tinggi," ujar Eka, yang tengah sibuk menyelesaikan tesisnya untuk gelar S2-nya di Sanatadharma, Yogyakarta.

Setiap hari Eka selalu meluangkan waktunya untuk membaca dan memperdalam English-nya. Sehingga tak heran kini ia sangat cakap dan fasih berbahasa Inggris. "Saya merasakan perubahan yang terjadi pada diri saya. Komunikasi saya kepada orang lain boleh dikatakan semakin hari semakin lebih baik," tuturnya.

Untuk belajar bahasa Inggris, menurutnya banyak cara yang dapat ditempuh. Bisa belajar pada lembaga formal maupun informal. Bahkan di rumahpun bisa. Saat ini banyak lembaga informal yang menyediakan jasa kursus bahasa Inggris. "Tapi disayangkan kebanyakan lembaga yang ada masih bersifat sekedar mengajarkan materi. Sudah selesai, gitu aja," pungkasnya.

Dengan menduduki jabatan baru di ELTI Gramedia Pontianak, ia ingin memberikan solusi yang dibutuhkan masyarakat saat ini. Yaitu tidak hanya mengajarkan bahasa Inggris tapi juga membangun kepercayaan diri dan sosialisasi kepada anak didik mereka.

"Melalui English language, kita ingin tidak hanya sekadar memberikan materi. Namun juga pengetahuan lain. Kita berusaha membuat mereka lebih percaya diri dan meningkatkan sosialisasi mereka khususnya dalam lingkungan sekitar," tutur Eka.

"Di lembaga yang saya pegang ini mampu membantu (melengkapi) lembaga formal. Di mana kita mendidik dan membangun anak-anak berkreativitas dalam proses belajar mengajar di ELTI," terangnya.

Kerap ia turun langsung mengajar anak-anak didiknya di ELTI. Untuk membuat anak-anak suka bahasa Inggris memang tidak mudah menurutnya. Dibutuhkan strategi khusus. Kadang saat belajar, ia selalu menyelinginya dengan game atau kuis-kuis.

"Saya yang juga selaku tenaga pengajar harus bisa membangun hubungan emosional dengan mereka. Hubungan ini sangat penting diperhatikan. Jika sudah tercipta emosional itu, kemudian bagaimana caranya saya harus membuat mereka nyaman dan betah belajar. Yakni memvariasikan aktivitas yang ada. Tidak monoton itu-itu saja. Di mana saya selalu melakukan aktivitas yang mereka sukai," imbuhnya.

Mempelajari bahasa Inggris dikatakannya tidak serta merta langsung cakap atau mahir begitu saja. Semuanya butuh proses. Tidak ada yang instan. Yang pasti tekun dan rajin untuk terus mempelajarinya.

Nomor Satukan Bahasa Indonesia
Mengajarkan anak berbahasa Inggris sangat tepat di usia mereka pada 7 atau 8 tahun. Eka mengatakan di usia tersebut, anak sudah dapat membedakan mana bahasa Indonesia dan Inggris. Artinya ketika anak sudah paham akan bahasa negaranya sendiri, maka peran bahasa Indonesia tidak akan dikesampingkan, saat mereka mempelajari bahasa asing (Inggris).

"Kerap kita lihat pada usia masih dua tahun saja, orangtua sudah mengenalkan kepada anaknya bahasa Inggris. Memang tidak salah. Namun alangkah baiknya, anak di usia dini seperti itu diajarkan dulu bahasa negaranya sendiri. Sehingga setelah mereka mulai paham akan bahasanya sendiri, maka orangtua memperbolehkan sang anak belajar bahasa asing," ujarnya.
Bimbingan orangtua sangat diperlukan dalam hal ini. Di saat anak sudah mulai mengenal dan belajar bahasa Inggris (asing), orangtua harus bisa mengarahkan. Misalnya sang anak mengatakan sesuatu dalam bahasa Inggris, orang tua membantu anak menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.

"Orangtua juga dituntut harus pandai. Keterlibatan orangtua terhadap anaknya menjadi sangat penting. Seperti di tempat kursus saya, selain anaknya yang kursus orangtuanya juga ada yang ikut kursus. Mereka merasakan penting mempelajarinya supaya ketika sang anak bertanya, mereka dapat menjawabnya dengan baik," tutur Eka.

Mempelajari bahasa asing tidak ada salahnya. Karena hal itu adalah tuntutan arus globalisasi saat ini. Dengan catatan bahasa negara tidak dilupakan. Yang perlu digaris bawahi bahasa Indonesia merupakan bahasa negara. Kedudukannya lebih utama dari bahasa-bahasa lainnya. Sedangkan bahasa asing atau Inggris bahasa kedua. Jangan sampai peranan bahasa negara dikesampingkan. Apa jadinya jika suatu negara sudah tak memiliki bahasanya sendiri. (mir/tribun pontianak cetak)

Biofile:
Nama lengkap: Eka Desy Adhya Pertiwi
Panggilan: Eka
Kelahiran: Pontianak, 28 Desember
Hobi: Membaca, memasak, travelling
Pendidikan:
SDN 58 Pontianak
SMPN 3 Pontianak
SMAN 7 Pontianak
Sarjana Jurusan Bahasa Inggris dan Pariwisata di Sekolah Tinggi Bahasa Asing Bandung
Penulis: Mirna
Editor: Arief

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas