Style Blitz

Kompol Roni Mustofa Hobi Balap

Terus off enam tahun di dunia balap. Waktu di Sintang muncul lagi karena dunia otomotif cukup banyak. Kalau di sana paling rajin latihan

Tayang:
Penulis: Rizky Zulham | Editor: Jamadin
zoom-inlihat foto Kompol Roni Mustofa Hobi Balap
Istimewa
Seongga Polisi saat beratraksi dengan motor kesayangannya, belum lama ini
TUGAS sebagai anggota Polri tak lantas membuat Kompol Roni Mustofa melupakan hobinya menunggangi kuda besi. Kapolsek Pontianak Barat ini punya segudang prestasi di dunia motocross.

Kawasaki KX 250cc ini mejadi tunggangan andalannya. Pretasi tertinggi yang ia raih adalah juara 3 di Kejurnas dan juara 1 di Kejurda clas spesial engine di Ngabang Kabupaten Landak. Pria kelahiran Nganjuk, Jatim 26 Juni 1977 ini menuturkan, hobi balapnya sudah mengalir di darahnya. Ia lahir dari keluarganya sebagi pecinta balap.

"Pertama kali ikut dunia balap karena orangtua. Om saya pembalap dan sering diajak saat latihan. Jadi tertariklah di dunia ini. Sejak SMP, saya diizinkan turun balap sampai SMA. Terus off enam tahun di dunia balap. Waktu di Sintang muncul lagi karena dunia otomotif cukup banyak. Kalau di sana paling rajin latihan," ujarnya kepada Tribun, belum lama ini.

Dia berharap generasi muda yang mempunyai jiwa balap dapat menyalurkannya lewat jalur yang benar. "Kalau punya aksi, bakat dan hobi mari salurkan di tempat yang benar. Tinggal pilih aliran mana yang ingin digeluti. Saya yakin terjamin dan bisa bawa harum nama daerah," katanya.

Dia menyatakan, potensi pebalap Kalbar sangat besar. "Namun, tidak ada yang mengarahkan untuk balap yang benar. Mereka sudah ada bakat, jika dilatih maka akan jadi. Untuk pembalap, tidak mungkin langsung jadi, harus dibina dan diarahkan sejak dini," imbuhnya.

Sayangnya, jelas Roni, Kota Pontianak belum mempunyai sirkuit. Jika ingin latihan, pebalap harus 
ke Kubu Raya, Sambas dan Mempawah. Dia berharap pemerintah daerah dapat sesegara mungkin membuat sirkuit.

"Masa kalah sama kabupaten. Sewaktu saya masih bertugas di wilayah, sepekan bisa dua sampai tiga kali latihan. Semenjak di sini, belum pernah sama sekali. Bagaimana kita mau bersaing tempat latihannya tidak ada. Kalau ada event, kita pergi apa adanya, karena tidak latihan. Seperti terjun bebas," jelasnya.

Menekuni hobi ini memang agak menguras kantong. "Jauh lebih mahal road race.  Kalau  grasstrack kisaran harganya sekitar Rp 25 juta sampai Rp 30 juta. Kebetulan kita juga didukung Kawasaki dan disponsori," pungkas ayah dua anak ini. 

Hobi motocross juga digeluti Triyan, anggota Polri lainnya. "Hal yang penting dan pertama kita siapkan adalah stamina, kostum dan waktu luang untuk mengumpulkan rekan. Waktunya seharian. Pergi pagi, pulang malam. Kalau touring dua kali sepekan. Selain itu, juga persiapkan kendaraan, menetapkan dan mengenal rute," ujar Triyan.

Sejak SMP ia sudah hobi balap. Namun saat itu keluarga menentangnya. "Setelah SMA baru eksis, itupun dari hasil nabung sendiri. Motor pertama yang dibeli Yamaha YT, kemudian dimodif jadi trail," kata anggota Unit Reskrim PPA Polresta Pontianak ini.
Pria kelahiran Pontianak, 24 September 1986 ini mengatakan, komunitas crosser di Pontianak sudah berkembang pesat.

 "Komunitas kami Point Track berdiri 2008. Peminatnya sudah mulai bertambah. Untuk motor standar bisa Rp 10 juta. Punya saya sekitar Rp 40 juta karena barangnya dibeli nyicil plus dengan harga motor saya saat ini yaitu Scorpio Z 225cc," jelasnya.

Hobi ini juga didukung istri tercinta. "Sementara ini positif. Intinya bisa membagi waktu dan utamakan keluarga. Istri mendukung. Karena sejak pacaran dia sudah tahu," ujarnya.
Desakan agar Pemkot membangun sirkuit motocross juga disampaikan Iwan, anggota komunitas Point Track. 

"Harapannya bisa dibuatkan sirkuit permanenan. Di daerah lain sudah ada dan masalahnya kalau kita mau latihan harus keluar kota," kata pria yang sudah 13 tahun menjajal nyali di lintasan ini.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved