Editorial
Pekerjaan Sampingan
paling pas diarahkan kepada seorang jenderal di kepolisian yang sedang menjadi sorotan publik terkait dugaan korupsi puluhan miliar yang dilakukannya.
FANTASTIS, bombastis, spektakuler! Pemirsa televisi program talkshow komedi "Bukan Empat Mata" tentu hafal dengan kata-kata guyonan khas Marcella Lumowa yang selalu hadir dengan gaya rambut nyeleneh di akhir acara yang dibawakan komedian Tukul Arwana.
Tulisan ini tidak bermaksud membahas guyonan khas Marcella, namun sekadar meminjam istilah tersebut untuk menggambarkan kata-kata yang mungkin paling pas diarahkan kepada seorang jenderal di kepolisian yang sedang menjadi sorotan publik terkait dugaan korupsi puluhan miliar yang dilakukannya.
Dia adalah Inspektur Jenderal Pol Djoko Soesilo yang benar-benar menjadi 'bintang' kepolisian. Bintang dalam arti karir yang moncer, kekayaan melimpah-ruah, dan jagoan memesona wanita.
Sosok Djoko Soesilo memang tidak bisa lantas disebut menjadi prototipe kepolisian kita saat ini.
Namun, fakta yang dihadirkan dari seorang Djoko seakan memberi gambaran kepada kita betapa kehidupan yang nyaman dari seorang anggota Bhayangkara. Inilah fakta yang sulit untuk ditepikan. Kalau saja persoalan Simulator SIM tidak berujung masalah, sudah barang tentu, kehidupan seorang Djoko takkan pernah terusik hingga mendalam.
Kita takkan pernah menyangka, Djoko yang cuma memiliki dua bintang di pundaknya memiliki kekayaan yang membuat semua orang geleng-geleng kepala. Menurut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) total nilai aset Djoko diduga mencapai lebih dari Rp 100 miliar.
KPK masih terus memburu aset dan harta kekayaan mantan Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) itu. Menurut Juru Bicara KPK Johan Budi SP, Kamis (14/3), aset yang telah disita KPK hingga saat ini nilainya baru mencapai puluhan miliar. KPK telah menyita 33 aset terdiri dari 26 tanah dan bangunan yang tersebar di sejumlah daerah, 3 SPBU dan 4 mobil mewah.
Bandingkan dengan gajinya (pokok) sebagai jenderal bintang dua yang berkisar Rp 5 juta-Rp 6 juta per bulan. Bila digabung dengan berbagai tunjangan yang menjadi haknya total sekitar Rp 30 jutaan setiap bulan.
Lantas dari mana harta kekayaannya hingga mencapai ratusan miliar? Inilah menariknya. Entah dari mana asal-muasal hartanya, berdasar Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) per Juli 2010 yang dibuat Djoko, total kekayaan yang dimilikinya sebesar Rp 5,6 miliar. Kekayaannya itu mencakup harta bergerak dan tidak bergerak, mulai dari bangunan (rumah) hingga kendaraan bermotor, plus tabungan.
Publik dibuat tercengang ketika KPK menyita berbagai aset kekayaan milik sang jenderal bertebaran mulai dari Solo, Semarang, Yogyakarta, Depok, Bogor, Jakarta, bahkan hingga Singapura. Tidak hanya berlimpah harta, sang jenderal juga memiliki tiga istri, dua di antaranya berusia muda. Dari kasus Djoko, sejatinya kita semua diajak untuk melihat sisi lain wajah sebagian polisi saat ini.
Publik yakin, Djoko tidak sendiri. Ada begitu banyak Djoko lain di institusi Polri yang juga memiliki banyak 'simpanan', mulai dari yang bergerak, tidak bergerak, dan juga yang sengaja mudah untuk 'digerak-gerakkan'. Publik tentu masih ingat rekening gendut para jenderal di tubuh Polri yang beberapa waktu lalu terungkap ke permukaan?
Dari mana para jenderal bisa memperoleh tabungan yang luar biasa banyaknya itu? Akal sehat kita malah terusik untuk bisa memahami pernyataan Wakapolri Komjen Pol Nanan Sukarna bahwa gaji (jenderal) polisi itu kecil. Katanya, mau tidak mau mereka memiliki pekerjaan sampingan agar bisa menutupi kecilnya gaji yang diperoleh.
Namun bila kemudian pekerjaan itu terkait dengan jabatan, tentu menjadi sangat lain ceritanya. Di sinilah sebenarnya muara ketidakberesan yang terjadi dari personal kepolisian yang menjadikan jabatan sebagai alat dari pekerjaan sambilan tersebut.
Kasus proyek SIM dan Simulator, tidak bisa dilepaskan dari jabatan seorang Djoko Soesilo sebagai Kakorlantas Polri. Kalau ini pekerjaan sambilan, tentu itu menjadi ruang permainan yang memang diciptakan oleh Djoko sendiri untuk mendulang banyak uang dari sana. Hal ini dilakukan dengan menerabas etika dan norma hukum.
Tapi kita masih percaya, masih banyak polisi jujur yang berpihak kepada rakyat. Contohnya, Jenderal Hoegeng adalah contoh dari sekian juta polisi yang selalu mengedepankan kejujuran, dan mengenyampingkan 'pekerjaan sampingan'. Namun bila Gus Dur berujar bahwa di negeri ini hanya ada tiga polisi jujur, "Pertama Pak Hoegeng, kedua patung polisi, dan ketiga polisi tidur" tentu itu sekadar joke. (*)