• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 22 Oktober 2014
Tribun Pontianak

Jualan Via Grup BlackBerry Messenger Untung Berlipat

Sabtu, 16 Februari 2013 09:33 WIB
Jualan Via Grup BlackBerry Messenger Untung Berlipat
Ilustrasi
BAGI Anda yang memakai smartphone jenis BlackBerry, pasti pernah mengalami di-invite atau diundang ke pertemanan dalam grup BlackBerry Messenger yang isinya pajangan produk dagangan. Sebel? karena bisa bikin BB error, karena update produk barunya terlalu sering bahkan hitungan menit. 

Sistem penjualan dengan cara demikian ternyata tengah digandrungi dan jauh lebih menarik dari hanya sekedar memajang produk di dalam toko. Seperti diungkapkan  Ika Krastanaya, yang membuka jualan online Khansaa collection pada September lalu, bahwa teknik marketing demikian jauh lebih praktis. 
Dengan BBM, lanjut Ika, bisa lebih up to date untuk model-model baru dibandingkan di toko. 

Dipastikan konsumen lebih senang karena semakin banyak pilihan belanja. "Sekarang ini orang lebih senang belanja online. Intinya sih lebih praktis, efisien, cuma dengan bermodal BB dan pulsa, tanpa biaya iklan pula, dan omzet juga lumayan," katanya kepada Tribun, Rabu (13/2).

Khansaa collection menawarkan koleksi baju dan jilbab. Sasarannya pun adalah para hijabers dan 
kalangan ibu-ibu. Sementara dari segi harga, dijamin tak mengecewakan karena harga yang ditawarkan tergolong murah. 

Mekanisme pemesanan adalah konsumen pesan via BBM grup tersebut, lalu konsumen diminta membayar minimal dari setengah harga dulu. Untuk pesanan akan sampai paling tidak dalam 3-7 hari. 
Bahkan ia yang menyempatkan mengantarkan barang tersebut.

"Pas barang datang langsung fokus sama barang, biasa diantarkan barang-barangnya ke rumah-rumah sekalian jalan gitu, biasa juga ngambil di kampus, kalau luar kota baru pakai kirim," jelasnya. 

Bagaimana dengan kualitas dari barang yang hanya bisa dilihat tanpa bisa disentuh ini? "Alhamdulillah sampai sekarang pelanggan puas. Soalnya di tiap barang dicantumkan jenis bahannya apa, jadi pembeli tahu jenis barangnya," ungkapnya yang mengaku produk jualan tersebut ia peroleh dari supplier di Solo. 
Untuk update produk baru paling banyak terjadi di awal bulan. Akan tetapi tiap semingu sekali bisa 
dipastikan akan ada koleksi baru yang dipajang di grup Khansaa Collection. 

Menurut Ika, konsep marketing seperti ini cukup menguntungkan. Ia pun bisa meraup untung di atas Rp 500 ribu dalam sebulan hanya untuk jualan baju saja. Itu belum termasuk jilbab, atau pun produk jenis lainnya. 

Ia berharap bisa terus mengembangkan usahanya dan saat ini pun ia rutin membuat katalog jualan. 
"Rencananya pengen nambah reseller di bawah saya. Selama ini baru tiga reseller saya," kata Mahasiswa Fakultas Kedokteran Untan ini.

Bermula Iseng

Tertarik dengan keuntungan yang berlipat, Femi Suciyani juga mengaku makin jatuh cinta dengan tipe marketing seperti ini. Ibu satu anak ini, menjual tas dari beragam merek lewat grup BBM dengan nama Daffa Collection.

Menurutnya, ini bermula dari hanya iseng bantu teman yang juga jualan tapi sudah sampai tahun ketiga. 
"Pas ada modal sedikit, daripada ngangur dibank mending dipakai, buat modal usaha ini," katanya. 
Ini karena Femi lebih senang memberikan sistem kredit untuk konsumennya. Tujuannya agar lebih meringankan konsumen. "Kreditnya sampai tiga bulan aja. Pas barang datang pembayaran pertama dulu, baru sisanya bisa dilunaskan dalam tiga bulan ke depan. Dan ternyata rata-rata pembeli suka yang kayak gini," jelasnya.

Dalam sebulan ia bisa menerima untuk order tas bisa sampai 5-6 tas. Sementara untuk baju dan kerudung, termasuk kosmetik pemesanannya bisa mencapai 20 orderan dalam sebulan. Untuk harga tas yang dijual Rp 250 ribu-Rp 800 dari merek Gucci, Hermes, Coach, Furla, Webe Roberto Cavalli, MK. Untuk dompet yang dijual dari harga 180 ribu-250 ribu. 

"Kredit cuma buat item tas dan dompet saja. Kalau yang lain cash dong," jawabnya.
Dia mengaku awal pertama kali memulai usaha ini, ia hanya memakai modal Rp 6 juta.

"Sekarang sudah delapan bulan jualan kayak gini, kalau aku hitung-hitung sekarang sudah Rp 13 juta dan itu tidak digangu gugat buat jualan aja, alias terus diputar uangnya di situ," bebernya. 

Dalam grup BBM tersebut, dia lebih tertarik mengundang teman-teman dekat saja, tapi tak jarang lewat display picture BBM yang ia pasang maka banya teman-teman di list BBM-nya ikut pesan juga. 

"Menariklah jualan seperti ini dan menguntungkan juga. Memang kadang risikonya ponsel jadi sering macet ataupun biasa anggota keluarga ada yang protes karena terlalu sibuk dengan BB. Ya, kadang- kadang nanggung juga kalau distop, nanti konsumen kecewa," tandasanya. 

Satu di antara konsumen jualan online yang diwawancarai Tribun, yaitu Raya, seorang pekerja swasta. Raya mengaku tergila-gila pada pembelian dengan sistem online tersebut. Meski tidak terlalu suka bergabung dengan grup jualan online tersebut.

"Paling tidak dalam satu bulan biasa beli satu tas. Saya suka liat DP teman-teman yang jualan. Kalau untuk gabung di grup jualan, gak suka lah, karena suka bikin BB error. Pas ada gambar tas yang bagus, dan sesuai harga, langsung pesan. Dari segi kualitas, sejauh ini gak ada masalah," ungkapnya. 

Penulis: Nina Soraya
Editor: Jamadin
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
67834 articles 10 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas