Sabtu, 1 Agustus 2015
Home » Tekno

Hexacopter Piawai Jepret dari Udara

Senin, 4 Februari 2013 08:32

Hexacopter Piawai Jepret dari Udara
TRIBUNPONTIANAK/URAY FERDIAN
Anggota Pascal duduk dengan latarbelakang foto Stadion Sultan Syarif Abdurahman hasil jepretan hexacopter.

Tak jauh dari hexacopter mengudara, sekumpulan anak-anak muda, berpakaian serba hitam, memandu pertunjukkan. Tak hanya hexacopter, robot lainnya juga ikut dipertontonkan. Sebut saja, quadcopter, robot penjinak bom, robot pemadam api, robot line follower, dan pesawat gabus.

Robot-robot canggih itu, adalah buah kreativitas tangan-tangan terampil anak-anak muda Pontianak yang menamakan diri Pontianak Applied Sains and Technology (Pascal). Inilah aksi perdana, sejak komunitas ini terbentuk, 26 Januari 2013 lalu.

"Kita ingin memperlihatkannya kepada masyarakat, mahasiswa punya karya, inovasi, dan produksi teknologi dan sains. Meski yang baru kita tampilkan hari ini, masih produk teknologinya. Ke depan, kita sudah memiliki konsep untuk produk sains. Misalnya pembangkit listrik tenaga sampah, mungkin master plan-nya pertengahan tahun ini dibuat," kata Ketua Pascal, Hajon Mahdy Mahmudin, kepada Tribun.

Ia menjelaskan, Pascal tempat berhimpunnya talenta-talenta berbakat dari Untan, STMIK, Poltekes, dan Polnep. Tak hanya dari bidang ekstakta, tetapi juga merangkul mereka yang non-eksakta.

Bahkan, terbuka untuk masyarakat umum, siswa SMA/SMK, SMP, dan Sekolah Dasar. Sebab pecinta sains dan teknologi tidak dapat dibatasi umur. "Jika ia mencintai sains dan teknologi, maka silakan bergabung dan berbagi di Pascal Community. Kita sangat terbuka untuk umum," kata mahasiswa Semester 5 Teknik Informatika STMIK ini.

Melalui komunitas ini, mahasiswa dan pelajar, bisa berkreasi meski dengan biaya dan peralatan yang sederhana. Tentu untuk memberikan manfaat besar. "Misalnya robot terbang dapat diaplikasikan untuk memantau Traffic Management Center (TMC), melalui foto udara dapat menghemat dan efisien," ujarnya.

Ia juga menepis anggapan, membuat robot mahal. "Untuk pembuatan robot murah sekali. Dengan Rp 500 ribu sudah bisa. Yang mahal hanya remot (TX/RX) yang bisa Rp 900 ribu. Itu pun bisa meng-handle banyak pesawat," katanya.

Halaman123
Editor: Arief
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas