• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 26 Oktober 2014
Tribun Pontianak

Tersangka Rekayasa Kwitansi Tiga Apotek

Rabu, 16 Januari 2013 09:31 WIB
Tersangka Rekayasa Kwitansi Tiga Apotek
Ilustrasi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Aspidus Kejati Kalbar, Didik Istiyanta, mengatakan modus yang dilakukan ketiga tersangka dalam kasus dugaan korupsi obat cacing Kabupaten Sanggau adalah dengan merekayasa harga di tiga apotek di Pontianak.

Ketiga apotek itu adalah Apotek Mulia, Merdeka Timur, dan Apotek Graha. Satu di antara, dr RJB diduga membuat harga perkiraan sendiri (HPS) yang seolah-olah diminta dari tiga apotek tersebut.

"Tiga apotek itu, merupakan rekayasa para tersangka. Ini berdasarkan hasil penyelidikan dan penyidikan yang telah kita lakukan," kata Didik Istiyanta kepada Tribunpontianak.co.id, Selasa (15/1/2013).

Sebelumnya, Senin (14/1), Kejati Kalbar menahan dr RJB, PAT, dan dr FD, setelah ketiganya diperiksa sebagai tersangka korupsi obat cacing senilai Rp 9,4 miliar tersebut. Saat kasus ini terjadi, dr FD yang kini menjabat Direktur RSUD Sanggau, adalah pejabat pembuat komitmen (PPK) pada 2006. Sementara dr RJB menjabat sebagai panitia pengadaan, dan PAT sebagai PPK tahun 2007.
 
Didik menjelaskan akibat rekayasa tersebut, harga obat cacing dan vitamin untuk peningkatan ketahanan fisik anak di Dinas Kesehatan Sanggau, melambung tinggi dari harga sebenarnya. Sebanyak 219.030 botol obat cacing Embacitrine Syrup dan 109.518 botol multivitamin Vicalcine Syrup, sejatinya dibagikan untuk 54 ribu siswa sekolah dasar (SD) se-Kabupaten Sanggau.

Seperti diberitakan, seluruh biaya untuk penyediaan dua jenis obat itu, berasal dari APBD Sanggau 2006 dan APBD Sanggau 2007. Kerugian terjadi karena harga di-markup hingga 10 kali lipat.

Pada pengadaan 2006, harga pasaran Embacitrine Syrup Rp 7.200 per boks atau Rp 600 per botol menjadi Rp 6.500 per botol dan Rp 6.975 pada 2007. Sedangkan untuk Vicalcine Syrup di pasaran Rp 2.170 per botol menjadi Rp 18.500 pada pengadaan 2006 dan menjadi Rp 20.450 pada pengadaan 2007.

Didik menjelaskan perbuatan ketiga tersangka mengakibatkan negara hampir 83 persen dari nilai dibayarkan atau sebesar Rp 7,1 miliar lebih. Kerugian negara pada 2006 sekitar Rp 2,457 miliar, dan pada 2007 Rp 4,7 miliar.

Total nilai kontraknya Rp 9,4 miliar. Berarti terjadi kerugian negara Rp 7,1 miliar atau 83 persen dari nilai kontrak.

Tahan Kwitansi

Kejati Kalbar saat ini, tengah melakukan penyidikan dan sudah menetapkan seorang tersangka lain di luar dr FD, RJB, dan PAT. "Yang satu biarkan dulu. Kita telah panggil. Tapi belum datang. Hari ini (Kemarin.Red) kita tidak ada melakukan pemeriksaan terhadap tiga tersangka yang sudah ditahan," tegas Didik.

Mengacu dari informasi yang sudah beredar di media massa sejak kasus ini mencuat, tersangka yang dimaksud Didik, diduga adalah MR pemilik PT Rajawali Nusindo, distributor obat cacing dan multivitamin. "Yang bersangkutan belum ditahan karena mangkir dari panggilan yang telah dilayangkan," jelas Didik.

Dengan demikian, ada empat tersangka dalam kadus dugaan korupsi yang merugikan APBD Sanggau senilai Rp 7 miliar ini. Sementara itu, terkait tiga nama apotek yang disebut direkayasa, Tribun mencoba meminta penjelasan dari masing-masing Apotek. Sukamto (37) pemilik sarana Apotek Merdeka Timur di Jl Hos Cokroaminoto dan Apotek Mulia di Jl Jend Urip, mengaku tidak mengerti kasus korupsi pengadaan obat cacing dan multivitamin di Sanggau.

Namun, ia membenarkan kwitansi yang ditahan sebagai barang bukti oleh Kejati Kalbar adalah kwitansi Apotek Mulia.  "Mereka menanyakan benar atau tidak kwitansi tersebut. Saya membenarkannya, bahwa kwitansi tersebut milik Apotek Mulia. Tapi, hanya sebatas antara konsumen dan pembeli. Mereka minta kwitansi kemudian kita berikan," kata Sukamto yang ditemui di Apotek Mulia, Selasa, malam.

Sukamto mengaku hanya diperiksa terkait kwitansi di Apotek Mulia. Sementara di Apotek Merdeka Timur tidak ada masalah. Setidaknya, ia sudah tiga kali dipanggil Kejaksaan dalam kasus ini. "Dari pertama hingga terakhir, mereka selalu menayakan hal yang sama. Pertanyaanya tentang kwitansi terus," imbuhnya.

Sukamto menegaskan, pihaknya bukan penyuplai dalam kasus ini. Bahkan proses tender dan tersangka pun ia tidak pernah mengetahuinya. Pihaknya hanya menjual dua botol Vicalcine Syrup seharga di bawah Rp 5.000. Transasi dilakukan dua kali dan tiap transaksi, pembeli meminta kwitansi tersebut.

"Dari pihak mereka tidak pernah membeli hingga ribuan botol. Saya tidak tahu asal dari mana. Cuma ada tim dari Sanggau yang turun untuk pengecekan harga obat tersebut. Pada kwitansi tersebut, kita hanya menjual dua botol Vicalcine Syrup. Sedangkan untuk jenis obat lain tidak ada," ujarnya.

Sukamto berharap kasus ini cepat selesai. Sebab ia merasa direpotkan karena harus berulang kali pergi untuk sesuatu yang tidak pernah melibatkan dirinya. "Kita serahkan sepenuhnya kasus ini kepada penegak hukum. Karena kita tidak ada sangkut paut. Hanya sebagai saksi. Saya harap kasus ini cepat selesai. Kita tidak perlu repot- repot pergi lagi," harapnya.

Sementara hingga berita ini diturunkan, Tribun belum mendapat penjelasan apa-apa dari Apotek Graha. Petugas yang ditemui Tribun, enggan memberikan komentar dan meminta datang bertemu atasannya hari ini.

Proses Permohonan


Seperti janjinya, Ketua Tim Kuasa Hukum ketiga tersangka, Martinus Ekok, mengaku sudah menyerahkan berkas permohonan pengalihan penahanan terhadap para kliennya. Ia berharap Kejati Kalbar bisa mengabulkannya.

Namun, itu ia diserahkan sepenuhnya kepada Kejaksaan. "Kita berharap dikabulkan, mengingat status ketiga tersangka. Akan tetapi itu kewenangan dari penyidik. Kita sudah masukan, tinggal menunggu," kata Martinus Ekok.

Meski begitu, ia berharap permohonan pengalihan penahanan diproses secepatnya. "Klien berharap agar prosesnya dipercepat, karena statusnya masih aktif sebagai PNS," harapnya.
Ia membenarkan sepanjang Selasa kemarin, tidak ada pemeriksaan terhadap kliennya yang kini berada di Rutan Klas IIA Pontianak. Kepala Seksi Penerangan Kejati Kalbar, Arifin Arsyad, membenarkan tiga orang tersangka telah mengajukan pengalihan atau penangguhan penahanan.

"Sudah dimasukkan. Saat ini, ada di meja Kepala Kejaksaan Tinggi. Diproses dulu, nanti habis dari
Kajati, turun ke Aspidsus, diproses lagi, sesuai aturan birokrasi," tegas Arifin.

Disinggung soal batas waktu keputusan pengalihan penahanan, Arifin, menegaskan semuanya sesuai tahapan birokrasi. "Kita tunggu saja perkembangannya dari jaksa penyidik," tuturnya.

Aspidsus Kejati Kalbar, Didik Istiyanta, menambahkan Kejati Kalbar akan segera melimpahkan berkas kasus ketiga tersangka ke pengadilan. Diperkirakan awal Februari, berkas akan dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Pontianak. "Bulan Februari," ujarnya.

Kajari Sanggau, Tito Prasetyo, mengatakan proses penahanan tiga tersangka korupsi obat cacing merupakan sebagai upaya penyidikan. Semua itu, wewenang Kejati Kalbar.

"Kalau sudah dinyatakan penyidikan selesai, P21, artinya semua lengkap dan memenuhi syarat. Maka, akan diserahkan ke kita karena lotus (lokasi) hukum di sini," kata Tito.

Ia mengatakan proses penuntutan akan dilakukan Kejari Sanggau. Namun, sidang kasus ini tetap dilaksanakan di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di Pontianak.

Upaya Preventif


Kepala Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas IIA Pontianak, Johan Edward, menjelaskan saat ini kondisi dr FD, RJB, dan PAT, dalam keadaan cukup baik. "Semuanya sehat. Dua pria satu wanita jabatannya dokter. Tempat kita pisah dari pelaku kriminal," kata Johan Edward.

Ia membenarkan ketiganya merupakan tersangka dalam kasus dugaan korupsi pengadaan obat cacing
di Dinas Kesehatan Kabupaten Sanggau. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sanggau, dr Jones Siagian MQIH, menjelaskan pemberian obat cacing dan multivitamin untuk siswa SD di Sanggau sudah diberikan.

Tujuan program ini adalah untuk ketahanan fisik seluruh siswa dari penyakit cacing yang mungkin bisa muncul pada siswa. "Awalnya, memang untuk ketahanan fisik anak sekolah. Waktu itu, karena dikhawatirkan anak sekolah cacingan yang disebebkan mikro nutrien yang berkurang. Untuk itu, diberikan obat itu," kata Jones Siagian.

Jones mengakui sebelumnya belum pernah ada kasus anak SD yang cacingan di Sanggau. Namun, program ini sudah pernah dilakukan pada 2002/2003. "Ini sebagai upaya preventif, untuk pencegahan saja," ujarnya.

Pemberian obat cacing kepada siswa SD dibenarkan Kepala SDN 75 Tapang Dulang, Jamian. Menurutnya, pada 2006/2007 lalu, ada pemberian obat cacing di sekolahnya. Saat itu, ia belum menjadi kepala sekolah. "Waktu itu, saya masih guru. Tapi memang ada (siswa diberi obat cacing)," jelasnya.

Menurutnya, program pemberian obat cacing pada siswa terakhir kali diberikan pada 2010 lalu. Saat itu, dirinya sudah menjabat kepala sekolah. "Waktu itu, dalam bentuk syrup satu botol dari Dinas Kesehatan. Total siswa yang menerima waktu itu 83 orang," ujarnya.

Guru lainnya di SDN 02 Sanggau, yang tidak mau disebutkan namanya, juga mengakui ada pemberian obat cacing pada 2006/2007. Namun, saat itu tidak semua siswa mendapat jatah obat cacing. "Seingat saya, memang tidak semua kelas. Tertentu saja," jelasnya. (tribun cetak)
Editor: Jamadin
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
57784 articles 10 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas