Zulfadli: Perubahan Kurikulum Dipaksakan

Anggota Komisi X DPR RI Zulfadli berharap pemerintah mengkaji ulang implementasi perubahan kurikulum pada 2013

Tayang:
Penulis: Zulkifli |

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Anggota Komisi X DPR RI Zulfadli berharap pemerintah mengkaji ulang implementasi perubahan kurikulum pada 2013.


Desakan ini disampaikannya usai dikusi publik terkait perubahan kurikulum yang melibatkan kalangan guru dan civitas akademika STKIP PGRI di gedung STKIP PGRI, Sabtu (5/1).


"Memang rencana pemerintah untuk mengimplementasikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2013 ini terkesan dipaksakan dan menuai reaksi dari kalangan guru. Ini termasuk persoalan kesiapan guru, buku teks yang jadi pegangan murid dan pedoman bagi guru," papar Zulfadli.

Dia menilai, perubahan kurikulum akan didukung kalangan guru manakala pemerintah melaksanakannya secara bertahap dan melakukan evalusi kembali terhadap kurikulum terdahulu.

"Kaji dahulu sistemnya, apa yang perlu diperbaiki, mana yang kurang. Apabila memang harus dilakukan perubahan, jangan dilaksanakan disemua jenjang pada 2013. Sentidaknya dimulai jenjang SD dahulu, baru tingkat SMP dan SMA. Jangan ada kesan terburu-buru dan mengorbankan siswa," lanjutnya.

Menurutnya, Komisi X akan mengajukan usulan kepada pemerintah agar dilakukan peninjauan kembali, terkait perubahan kurikulum pada 2013.

"Kita masih mengkaji. Kalau memang pemerintah mau mendengar dari saran Komisi X, tentulah anggaran yang tersedia nantinya tidak semua dialokasikan untuk perubahan kurikulim. Namun, sebagian lebih baik kita peruntukan bagi pembinaan karir guru, terutama melihat hasil kompetensi guru kita yang terdahulu yang rata-rata berada di bawah nasional," ungkapnya.

Zulfadli memahami, perubahan kurikulum memang tak bertentangan dengan Undang-undang Sisdiknas, akan tetapi malah menjadi amanat dalam undag-undang tersebut. Namun, perlu adanya kajian jangan sampai terjadi perubahan secara drastis.

"KTSP usianya masih muda dan belum dievaluasi secara komprehensif. Lebih baik dipersiapkan dulu, sambil memperbaiki kompetensi guru. Kalau kompetensi sudah baik, sarana dan prasarana sudah bagus maka perubahan kurikulum tidak masalah," jelasnya.

Meski belum mengetahui mendetail mengenai perubahan kurikulum 2013, beberapa guru yang ditemui Tribun merasa terbebani dengan perubahan tersebut.

Juni (32), guru SMK 7 Terpadu Pontianak Timur mengaku terbebani jika kurikulum baru diterapkan. Jika diterapkan saat ini, jelasnya, akan ada banyak perubahan yang dilakukan terutama terkait Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) serta Silabus.

"Saya rasa jika diterapkan nantinya ada banyak perubahan yang kita lakukan seperti RPP yang harus disesuaikan kembali, meteri yang juga harus disesuaikan, kemudian buku pelajaran yang tidak mudah," kata Juni.

Demikian yang disampaikan Supriati (46). Dia menilai, meskipun hal tersebut kebijakan pemerintah yang harus dilaksanakan, ia berharap ada sedikit kemudahan yang diberikan.
Dikatakannya, untuk tingkat SD saja cukup berat. Perubahan yang terjadi mengharuskan seorang guru menguasai beberapa mata pelajaran pokok.

"Lumayan berat lantaran tematik yang mengharuskan satu guru menguasai beberapa bidang pokok seperi matematika, IPA, bahasa Indonesia dan PPKN. Jika diterapkan, kita memang harus mengikuti sosialisasi agara dapat menyesuaikan," pungkasnya. (zul/Tribun Pontianak Cetak)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved