Weldi: Saya Dipukul Pake Kayu
Lantaran tidak terima telah dipukuli saat diinterogasi, Weldi mengaku akan mengadukan kejadian ini ke Komnas HAM Kalbar.
Penulis: Novi Saputra |
Lantaran tidak terima telah dipukuli saat diinterogasi, Weldi mengaku akan mengadukan kejadian ini ke Komnas HAM Kalbar.
Ia menuturkan, pada saat kejadian perampokan pada Senin (17/12) dinihari silam Ia berada di Pontianak dan Ia juga mengaku tidak mengetahui kejadian tersebut. Namun, ketika dalam perjalanan pulang pada Jumat sore (21/12), tepatnya saat melintas diatas jembatan di daerah Balai Bekuak, Ia ditahan anggota kepolisian.
"Saya di Pontianak sekitar seminggu, tempat kawan. Pulangnya saya numpang naik mobil strada teman, motor saya dinaikkan di baknya. Sampai di Balai Bekuak kami disuruh stop. Lalu saya dimasukkan ke dalam mobil polisi," ujarnya kepada Tribun Rabu (26/12).
Usai dimasukkan kedalam mobil polisi, Ia mengaku deritapun dimulai. Sepanjang perjalanan menuju Polsek Balai Bekuak Ia ditanya terus menerus mengenai proses perampokan di Nanga Tayap.
"Mana Hape, mana emas, mana duit, kawan-kawanmu yang lain mana," tuturnya menirukan pertanyaan anggota kepolisian, yang dijawabnya dengan, "Tidak tau pak, bukan saya pak".
Tak sampai disitu, Ia juga mengaku sempat dipukul di beberapa bagian tubuhnya, mulai dari pipi yang digampar dan diterjang. "Pantat saya dipukul pake kayu," cetus Weldi seraya menunjukkan area pinggangnya yang masih membekas kebiruan akibat pukulan.
Setelah itu, Weldi kemudian dibawa menuju Polsek Nanga Tayap dan ditempatkan di Sel. Lantaran tak kuasa menahan sakit Ia mengaku bahkan tanpa sadar mengeluarkan air besar.
Tak lama kemudian, Ia dipertemukan dengan cucu korban, Kelvin (12). Saat itu Ia disuruh menggunakan tutup kepala ala ninja dan diminta bicara kepada Kelvin. Namun Kelvin pun memastikan suara Weldi tidak sama dengan suara perampok yang membekap neneknya hingga tewas.
Merasa salah tangkap, anggota yang meringkusnya bermaksud melepasnya begitu saja. Namun lantaran di luar Mapolsek Nanga Tayap telah berkumpul ramai massa, Iapun mengurungkan niatnya untuk pulang, takut dihakimi massa.
Lalu Ia mengambil keputusan untuk pulang ke Sandai keesokan harinya pada Sabtu siang. "Saya mau nama saya dibersihkan, polisi meminta maaf kalau sudah salah tangkap," harapnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kapolres Ketapang AKBP Ary Wahyu Widijananto melalui Wakapolres Ketapang, Kompol Saiful Alam menyatakan bila memang ada anggota kepolisian yang menyalahi prosedur, Polres Ketapang tidak akan menutup mata.
"Kalau memang ada bukti yang kuat, hasil visumnya jelas dan pemeriksaan lapangan memang ada kesalahan prosedur tentu ada penindakan," ujarnya.
Ia juga menyarankan kepada korban salah tangkap untuk melapor ke Propam Polres Ketapang.
"Sudah ada wadahnya, silakan lapor ke Polres karena kita punya Propam, bila perlu besok (hari ini,red) ketemu saya sama Kapolres, ceritakan semuanya, kalau memang ada salah prosedur akan ditindak," tegas Kompol Saiful. (nop/Tribun Pontianak Cetak)