Catatan Perjalanan Tribun Pontianak ke Singapura (1)

Mimpi Supadio seperti Changi

Aktivitas di Bandara Changi luar biasa. Di mana-mana terlihat penumpang hilir mudik dengan kesibukan masing-masing.

Tayang:
Penulis: Leo Prima |

Sebagai satu di antara kota paling modern di dunia, Singapura adalah yang paling aman. Sejumlah "mimpi" ditawarkan, di antaranya Bandara Changi yang canggih dan sistem transportasi massal MRT yang nyaman. Setidaknya, itu yang saya rasakan selama berada di Singapura, akhir pekan lalu di sela-sela meliput laga dua juara tinju dunia asal Indonesia, Chris John dan Daud "Cino" Jordan melawan penantang.

SETIBA di Bandara Changi, Singapura, siapapun yang datang langsung disambut dengan eskalator datar. Fasilitas transportasi ini memudahkan kita menelusuri bandara yang luas itu, mulai dari pintu kedatangan hingga ke gerbang keluar bandara.

Tak perlu melangkahkan kaki, kita sudah dibawa menuju pintu keluar dengan eskalator tersebut. Hampir tak ada anak tangga yang perlu dilangkahi untuk menuju lantai atas atau lantai bawah.

Aktivitas di Bandara Changi luar biasa. Di mana-mana terlihat penumpang hilir mudik dengan kesibukan masing-masing. Data dari Otoritas Bandara Changi menunjukkan, jumlah penumpang yang mendarat di bandara ini selama sebulan, September 2012 lalu, mencapai 4 juta orang. Secara tahunan, ada 49,9 juta penumpang yang mendarat di bandara ini.

Sebagai perbandingan, jumlah penumpang yang datang ke Bandara Supadio Pontianak pada September 2012 tercatat 104.313 penumpang. Sedangkan untuk data tahunan pada 2011 tercatat 2,6 juta penumpang.

Bandara Changi diklaim sebagai hub Asia. Per 1 Oktober 2012, bandara ini menghubungkan 230 kota di 60 negara. Bandara ini juga melayani 100 maskapai yang mengoperasikan lebih dari 6.300 penerbangan tiap pekan. Secara tahunan, Changi menangani 320.400 pergerakan pesawat.

Bandingkan dengan Supadio yang hanya melayani empat maskapai nasional untuk rute dalam negeri, dan satu maskapai rute Singapura, dan dua maskapai rute Kuching. Tentu menjadi impian suatu saat bandara kita akan bisa semegah dan sesibuk Bandara Changi.

Jika suatu waktu ke Changi, jangan lupa singgah ke Terminal 3 yang mulai beroperasi pada 9 Januari 2008. Terminal ini memiliki fasilitas yang sungguh memanjakan penumpang.
Ada Hard Rock Cafe, Butik BVLGARI, Gucci, Hermes, pusat makanan, Crowne Hotel, taman kupu-kupu dan bioskop mini.

Garuda Indonesia mulai 22 Februari 2011 memindahkan operasionalnya ke terminal ini, dari Terminal 1. Untuk pindah-pindah terminal, jangan ragu, ada bus gratis yang beroperasi 24 jam nonstop.
Kereta MRT
Keluar dari Bandara Changi, penumpang masuk ke sebuah gerbong skytrain. Kendaraan bertenaga listrik ini mengantarkan ke terminal Mass Rapid Transit (MRT) terdekat. MRT adalah sistem angkutan cepat yang menjadi tulang punggung sistem angkutan umum di Singapura, dan membentang ke seluruh "negara kota" ini.


Hampir 70 persen dari seluruh manusia yang berada di Singapura menggunakannya sebagai alat transportasi. MRT memiliki 79 stasiun dengan jalur sepanjang 129,7 kilometer, yang beroperasi dari pukul 05.30 hingga pukul 01.00 dini hari.

Di setiap stasiun MRT, rata-rata memiliki dua hingga tiga lantai. Setiap penghubung lantai, menggunakan eskalator. Lagi-lagi tak ada anak tangga yang perlu kita langkahi. Bahkan, dilengkapi dengan pengatur suhu udara, atau air conditioner (AC).

Dengan fasilitas yang sangat nyaman tersebut, wajar jika banyak warga yang berada di Singapura menggunakan moda transportasi ini. Selain kenyamanan, faktor ketertiban dan keamanan tak luput dari nilai plus MRT.

Saat masuk saja, kita sudah diatur cara antre. Jalur keluar berada di tengah pintu, sedangkan jalur masuk berada di sisi kiri dan kanan pintu.

Di tengah desakan masuk ke gerbong MRT, Anda tak perlu takut dengan copet. Karena semua orang sibuk dengan gadget dan urusannya masing-masing. Walau demikian, di dalam gerbong tetap terpampang imbauan untuk waspada terhadap tangan-tangan jahil.

Di dalam gerbong, di kursi paling dekat pintu juga tertulis "Reserved" dengan gambar pemesan kursi adalah ibu hamil, orangtua, penyandang cacat, dan ibu menyusui. Itu adalah kebijakan dari SMRT, untuk menghormati mereka. Siapapun yang duduk di kursi itu, langsung berdiri jika di sekitarnya terdapat orangtua, atau ibu hamil yang belum kebagian kursi.

Untuk menggunakan MRT, kita hanya perlu membayar di bawah tiga dollar Singapura (kurs 1 dollar Singapura Rp 7.900), sesuai jarak tempuh yang akan kita tuju. Anda hanya perlu membeli tiket, yang nantinya bisa anda gunakan berkali-kali. Jika anda tak punya uang kecil, mesin tiket - yang seperti mesin ATM ini- akan mengeluarkan kembalian.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved